Jakarta (tutur.co.id) – Ramadan kerap dipahami sebagai bulan pengendalian diri. Sejak fajar menyingsing hingga matahari tenggelam, umat Muslim menahan lapar, dahaga, juga dorongan emosi. Namun di balik praktik spiritual itu, ada proses sunyi yang bekerja di dalam tubuh—dan terutama, di dalam pikiran.
Selama ini, puasa lebih sering dibahas dari sisi ganjaran religius atau manfaat fisik: detoksifikasi, pengaturan pola makan, hingga metabolisme. Padahal, pengaruhnya terhadap kesehatan mental tak kalah signifikan. Ada disiplin, ada jeda, ada latihan panjang untuk tidak reaktif pada dorongan sesaat. Dalam ritme yang teratur itu, mental dilatih untuk bertahan.
Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog, menyebut puasa sebagai latihan pengendalian diri yang konkret. Ia menyampaikan bahwa berpuasa bermanfaat dalam meningkatkan kontrol diri. Puasa juga melatih seseorang untuk bersabar, sehingga membantu dalam menurunkan emosi negatif dalam diri.
Menurut Dr. Bagus Riyono, selama puasa, dengan adanya jeda serta tidak impulsif, maka akan terjadi turunnya ketegangan atau stres dalam diri. Jiwa juga dilatih untuk untuk lebih disiplin dan tekun sehingga akan tercipta perasaan tenang yang dapat menurunkan stres dalam diri. Dalam bahasa psikologi, jeda adalah ruang refleksi. Dan refleksi, kerap menjadi pintu masuk bagi kestabilan emosi.
Di level biologis, perubahan itu juga terukur. Sejumlah penelitian menunjukkan puasa dapat meningkatkan produksi serotonin dan dopamin—dua hormon yang kerap dikaitkan dengan rasa bahagia dan motivasi. Serotonin membantu menjaga suasana hati tetap stabil, sementara dopamin berperan dalam membangun semangat dan dorongan untuk bertindak.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya, Dr. Diana Rahmasari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menjelaskan bahwa puasa memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat serta melakukan pemulihan dalam mengatur kadar hormon stres seperti kortisol. Selain itu, puasa juga terbukti dalam meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yaitu protein yang memiliki peran untuk meningkatkan suasana hati, euforia, serta kewaspadaan. Peningkatan hormon dopamin saat puasa juga bantu dalam meningkatkan motivasi, semangat, serta rasa bahagia.
Di titik ini, puasa tak lagi sekadar ritual tahunan. Ia menjadi proses pembentukan diri yang menyeluruh—menata ulang ritme tubuh, menenangkan sistem saraf, sekaligus memperkuat daya tahan mental. Lapar dan dahaga hanyalah permukaan. Di kedalaman, ada disiplin yang dilatih, emosi yang dirapikan, dan stres yang perlahan diturunkan.
Ramadan, dengan demikian, dapat dibaca sebagai ruang pemulihan. Sebuah fase ketika manusia belajar menunda, menimbang, dan mengendalikan. Bukan hanya untuk memenuhi kewajiban spiritual, tetapi juga untuk membangun ketenangan batin yang lebih stabil.
Pada akhirnya, puasa bukan semata soal menahan. Ia adalah proses menyusun ulang—tubuh, pikiran, dan jiwa—agar lebih seimbang. Dan mungkin, di situlah salah satu rahasia terbesarnya: kesehatan mental yang tumbuh dari disiplin yang dijalani dengan kesadaran.

