Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali menguat pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026, di tengah kombinasi sentimen eksternal yang mereda dan respon positif pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
Pada penutupan perdagangan Rabu sore (28/1/2026), rupiah tercatat menguat 46 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda sempat menguat lebih dalam hingga 55 poin ke level Rp 16.722 per dolar AS, sebelum akhirnya ditutup di kisaran Rp 16.712–Rp 16.720, dari posisi sebelumnya di Rp 16.758 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis akan tetap fluktuatif, namun berpeluang ditutup di zona penguatan.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun diperkirakan ditutup menguat di rentang Rp 16.670 hingga Rp 16.730 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/1/2026).
Tekanan terhadap Dolar AS
Menurut Ibrahim, rupiah relatif mampu bertahan dari tekanan sentimen global, salah satunya akibat memanasnya kembali ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan sejumlah mitra strategisnya, seperti Uni Eropa, Kanada, dan Korea Selatan.
“Retorika perdagangan agresif Presiden Trump dan penggunaan tarif secara berulang sebagai senjata ekonomi justru membebani dolar AS,” kata Ibrahim.
Selain isu perdagangan, pasar juga mencermati potensi penutupan pemerintahan (government shutdown) di Amerika Serikat, seiring tenggat waktu pendanaan yang jatuh pada 30 Januari 2026. Ketidakpastian politik ini turut menekan daya tarik dolar AS di mata investor global.
Faktor lain yang menjadi sorotan adalah rencana pengumuman ketua baru Federal Reserve (The Fed) sebagai pengganti Jerome Powell. Figur pengganti tersebut diyakini pasar memiliki kecenderungan kebijakan yang lebih akomodatif dan berpotensi membuka ruang penurunan suku bunga.
“Pasar sepenuhnya telah memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen pada pertemuan Januari. Fokus selanjutnya akan tertuju pada konferensi pers Jerome Powell, khususnya terkait arah kebijakan moneter ke depan,” jelas Ibrahim.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan The Fed dapat memangkas suku bunga sekitar dua kali hingga akhir tahun, seiring perlambatan ekonomi dan inflasi yang mulai terkendali.
Stimulus Fiskal Jadi Penyangga Domestik
Dari dalam negeri, prospek rupiah turut ditopang oleh sentimen positif terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Pasar merespons baik keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk melanjutkan empat program stimulus pada 2026.
Kebijakan tersebut meliputi perpanjangan PPh Final 0,5 persen bagi UMKM hingga 2029, insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi pekerja sektor pariwisata, PPh 21 DTP untuk pekerja di industri padat karya, serta diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi peserta Bukan Penerima Upah (BPU).
“Pasar merespons positif kebijakan stimulus yang berlanjut ini karena memberikan kepastian bagi dunia usaha dan menjaga daya beli masyarakat,” ujar Ibrahim.
Dengan kombinasi sentimen global yang cenderung melemahkan dolar AS dan dukungan kebijakan fiskal domestik, rupiah dinilai masih memiliki ruang untuk bergerak menguat, meski tetap dibayangi volatilitas jangka pendek.

