Amman (tutur.co.id) – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memamerkan gambar kerusakan parah pangkalan udara Amerika Serikat (AS) di Al Azraq Yordania, pada serangan akhir pekan lalu. Akibat serangan ini, dua prajurit AS tewas dan satu orang dinyatakan hilang.
Dari gambar yang dirilis IRGC tersebut memperlihatkan begitu presisinya rudal-rudal Iran menghantam tempat perlindungan pesawat tempur F-15 dan F-16 milik Amerika Serikat. Selain korban jiwa, serangan ini membuat beberapa pesawat tempur AS hangus terbakar.
Menurut kantor berita resmi Iran, IRGC mengklaim bahwa serangan rudal dan drone dalam Gelombang ke-20 Operasi Nasr-2 ini telah berhasil menghancurkan setidaknya dua jet tempur dan tiga drone Amerika, dan menimbulkan kerusakan parah pada beberapa bagian lainnya.
Gelombang ke-23 Operasi Nasr-2
Garda Revolusi Iran juga mengumumkan pada Senin malam bahwa pasukan angkatan lautnya juga telah memberikan pukulan telak kepada pasukan AS di wilayah tersebut, dalam serangan serentak sebagai bagian dari gelombang ke-23 Operasi Nasr-2, yang dilakukan dalam tiga fase.
Dalam pernyataan ke-33 yang dipublikasikan di situs webnya, IRGC merinci ketiga fase tersebut, menjelaskan bahwa fase pertama melibatkan penyerangan dan penghancuran hanggar pemeliharaan dan penyimpanan drone milik unit AS yang ditempatkan di Bandara Sakhir di Bahrain.
Disebutkan bahwa fase kedua menargetkan hanggar untuk mempersiapkan kapal kelas TF59 di Pelabuhan Salman di Bahrain, yang mengakibatkan penghancuran dan kerusakan signifikan pada kapal-kapal tersebut.
Ditambahkan bahwa fase ketiga melibatkan pembakaran hanggar yang menampung, mendukung, dan melengkapi pasukan angkatan laut khusus di Pangkalan Udara Arifjan di Kuwait, yang menghancurkannya sepenuhnya.
Operasi Nasr-2 Bakal Terus Berlanjut
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menekankan bahwa serangan dahsyat akan terus berlanjut, dengan menggunakan operasi rudal dan drone yang ekstensif, sebagai tanggapan terhadap serangan militer AS terhadap anak-anak.
“Presiden AS (Donald Trump) yang bodoh, yang berulang kali mengakui ketidaktahuan dan kebodohannya mengenai situasi global, yang mengaku telah membunuh Imam kami yang telah gugur tanpa menyadari pengaruhnya yang besar terhadap masyarakat dunia dan cinta serta kasih sayang rakyat Iran dan negara-negara lain terhadapnya, dan yang mengaku telah melancarkan perang di wilayah ini tanpa memahami pentingnya Selat Hormuz bagi perekonomian global, sekali lagi menunjukkan kebodohan dan ketidaktahuannya dengan menyatakan bahwa Iran hanya memiliki sedikit rudal dan drone yang tersisa dan bahwa persediaannya hampir habis,” tulis pernyataan resmi IRGC.
Dalam pernyataannya itu, IRGC tampaknya ingin menegaskan bahwa Iran siap meladeni AS bahkan jika memang perang akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Dengan kata lain, Teheran tampaknya ingin membantah klaim AS yang mengatakan pasokan senjata militer Iran kini sudah menipis.

