Jakarta (tutur.co.id) – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak akan goyah oleh upaya yang disebutnya “menakut-nakuti” terkait penilaian lembaga rating global. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam taklimatnya saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin.
Sorotan tajam ini keluar setelah beberapa lembaga pemeringkat internasional sempat memberikan sinyal akan menurunkan skor investasi Indonesia. Sentimen negatif tersebut muncul sebagai respons atas kebijakan berani pemerintah yang mewajibkan ekspor komoditas strategis melalui satu pintu, yakni lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
“Tadinya kita ditakut-takuti, ada rating agency, global rating agency, nanti akan kasih rapor jelek Indonesia. Kita akan diturunkan (rankingnya) supaya nanti enggak ada yang mau invest di Indonesia. Sudah-sudah, bukan kita takut,” tegas Prabowo di hadapan seluruh anggota Kabinet Merah Putih.
S&P Malah Beri Sinyal Positif
Meski sempat dibayangi proyeksi negatif, kenyataan di lapangan justru berbicara sebaliknya. Lembaga pemeringkat ternama, Standard & Poor’s (S&P), justru mengapresiasi langkah strategis Indonesia. S&P menilai kebijakan satu pintu tersebut sebagai langkah tepat yang berpotensi mendongkrak pendapatan (revenue) negara.
S&P secara resmi mempertahankan outlook Indonesia pada level stabil (stable) dengan rating BBB/A-2 (investment grade), berkat pemulihan penerimaan negara dan kinerja ekspor yang terus membaik. Kontras dengan S&P, dua lembaga rating besar lainnya, Moody’s dan Fitch, enunjukkan sikap yang lebih konservatif dalam penilaian beberapa bulan terakhir.
Berdikari pada Fundamental Ekonomi
Terlepas dari dinamika angka yang diberikan oleh lembaga asing, Presiden Prabowo mengingatkan jajarannya agar tidak mendewakan penilaian luar negeri. Kunci utama kedaulatan bangsa adalah percaya pada kekuatan fiskal dan fundamental dalam negeri.
“Bukan kita selalu harus puas dengan rating bangsa lain. Sekali lagi saudara-saudara, percaya kepada kekuatan kita sendiri. Kita hidup di dunia global, tetapi kita harus percaya kepadalembaga kekuatan kita sendiri,” ujar Prabowo.
Fokus pada Tiga Pilar Utama
Presiden menegaskan bahwa fokus utama pemerintah bukan sekadar mengejar angka rapor dari lembaga asing, melainkan memperkuat tiga hajat hidup mendasar rakyat yakni memastikan ketersediaan dan ketahanan pangan nasional, menjaga pasokan energi yang kuat dan mandiri serta mengoptimalkan manajemen sumber daya air yang melimpah.
Prabowo optimistis, dengan fundamental yang kokoh pada ketiga sektor tersebut, Indonesia cepat atau lambat akan diakui oleh dunia.
“Apapun terjadi, kita sekarang pangan aman, energi cukup kuat, air kita berlimpah-limpah tinggal management-nya. Kita sudah mulai dipandang, dan kita akan buktikan, saya yakin dan percaya, kita akan jadi lumbung pangan dunia,” pungkasnya.

