Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (26/6/2026) dengan potensi menguji level psikologis 6.100. Sejumlah sentimen positif, mulai dari pelemahan harga minyak dunia, rencana efisiensi belanja pemerintah, hingga kebijakan terbaru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dinilai menopang pergerakan pasar.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang support 5.850, pivot 6.000, dan resistance 6.100.
“IHSG hari ini akan bergerak sideways pada kisaran 5.850-6.100,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (26/6/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup menguat 1,96% ke level 5.999,04. Penguatan tersebut ditopang oleh meredanya kekhawatiran terhadap tekanan fiskal dan inflasi seiring koreksi harga minyak mentah Brent yang mendekati US$70 per barel.
Selain itu, investor juga merespons positif kabar bahwa pemerintah kembali mempertimbangkan pemangkasan tambahan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp50 triliun. Langkah efisiensi belanja tersebut dinilai berpotensi mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Dari sisi kebijakan moneter, LPS memutuskan menaikkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) simpanan rupiah di bank umum dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) masing-masing sebesar 25 basis poin (bps). Kebijakan tersebut berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.
Dengan penyesuaian tersebut, TBP simpanan rupiah di bank umum meningkat menjadi 3,75% dari sebelumnya 3,50%, sedangkan TBP simpanan rupiah di BPR naik menjadi 6,25% dari 6,00%. Sementara itu, TBP simpanan valuta asing di bank umum tetap dipertahankan sebesar 2,00%.
Menurut LPS, penyesuaian dilakukan sebagai langkah antisipatif sekaligus menjaga kredibilitas tingkat bunga penjaminan sebagai acuan suku bunga simpanan yang wajar di industri perbankan.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas juga menyoroti langkah Kementerian Keuangan yang mulai menarik kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang sebelumnya ditempatkan di perbankan nasional.
Dana SAL senilai Rp200 triliun telah ditempatkan pemerintah di bank-bank BUMN sejak September 2025 untuk memperkuat likuiditas perbankan, sebelum kemudian ditambah Rp100 triliun menjadi total Rp300 triliun. Penempatan dana tersebut dilakukan di Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Tabungan Negara (BBTN), dan Bank Syariah Indonesia (BRIS).
Phintraco menilai penarikan dana tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan pemerintah untuk membiayai belanja negara. Namun, dampaknya terhadap sektor perbankan diperkirakan tetap terkendali apabila dilakukan secara bertahap.
“Penarikan ini mengindikasikan pemerintah membutuhkan dana lebih dalam membiayai pengeluarannya. Jika dilakukan secara bertahap, diperkirakan tidak akan mengganggu likuiditas perbankan,” tulis Phintraco.
Untuk memanfaatkan peluang penguatan IHSG, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang layak dicermati investor, yakni DEWA, MDKA, AMRT, BRIS, dan BUKA.

