Jakarta (tutur.co.id) – Sudut pandang berbeda diberikan pengamat politik luar negeri Amerika Serikat (AS) dan dosen senior Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), Prof. Suzie Sudarman terkait langkah Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran. Saat para pengamat lain menganggap Trump dalam posisi ‘kalah’, Prof Suzie justru tak memandangnya seperti itu.
Dalam podcast Bang Don Zuper Opini, Prof Suzie membeberkan panjang lebar kondisi terakhir dari konflik AS versus Iran. Seperti diketahui saat ini, AS tampak lebih memilih mengalah saat harus bertemu Iran di meja perundingan. Bahkan dalam 14 butir kesepakatan tampak lebih banyak menguntungkan Iran. Hal itu yang dianggap banyak kalangan sebagai sinyal jika AS dengan Trump-nya dalam posisi ‘kalah’.
Menurut Prof Suzie, ada satu fakta yang tak bisa dinafikan bahwa sosok Donald Trump ini adalah seorang deal maker atau ahli negosiasi. Itu juga terafirmasi dengan buku The Art of the Deal yang ditulis Trump sendiri yang tentu cukup menggambarkan sosok Presiden AS yang satu ini.
“Kebetulan fasilitatornya (Trump) ini menulis buku tentang The Art of the Deal. Donald Trump walaupun dalam perjalanannya ada bully diplomacy atau versi-versi lain, nanti akan ada teater. Teater yang bergonta-ganti yang kita enggak bisa tebak teater mana yang akan muncul,” kata Prof Suzie saat menjadi bintang tamu Bang Don Zuper Opini bersama Don Bosco Selamun.
Jadi sebetulnya, lanjut Prof Suzie, apa yang dilakukan Donald Trump saat ini lebih pada melihat a bigger picture, bukan berarti kalah.
“Visi bahwa Amerika bisa mendapat gold (keuntungan) dari ini. Gold-nya itu kapan waktunya, dia mencoba push the envelope supaya dia akhirnya menang. Karena itu karakternya dia. Jadi kalau misalnya kita pikir dia kalah, dia sebetulnya sedang berinisiasi untuk berpikir kapan nih saya bisa pukul dia untuk saya mendapatkan keuntungan,” ujarnya.
Menurut Prof Suzie, dibalik sikap mengalah Trump dalam masalah Iran saat ini sejatinya punya tujuan yang lebih besar lagi yang tentu dianggap lebih menguntungkan saat ini karena mendekati pemilu.
“Strateginya lebih pada kekuatan dirinya, dan gambaran yang diterima oleh rakyat Amerika adalah kamu harus maskulin, kamu harus sukses. Nah, sukses itu dibeli dengan dia mundur dari Iran. Artinya dia bisa dituduh kalah dan sebagainya, tapi dia punya tujuan yang lebih besar nanti mendekati pemilu, dia akan serbu Kuba untuk diambil,” terangnya.
Prof Suzie menambahkan, keputusan untuk cepat menyelesaikan masalah Iran lewat meja perundingan memang didasari keinginan Trump untuk menyerbu Kuba. Karena dalam hal ini sangat tidak mungkin Trump harus membagi fokus apalagi harus membagi anggaran.
“Karena dia enggak bisa punya dua front sekaligus, uangnya enggak ada. Tapi lebih baik menyerbu Kuba yang sudah dilemahkan,” ujar Prof Suzie.
Dari kaca mata Prof Suzie, sinyal Trump memang membidik Kuba sudah sangat jelas terlihat saat AS mengacak-acak Venezuela dengan ditangkapnya sang Presiden Nicolás Maduro. Menurutnya penangkapan Maduro itu sebagai upaya melemahkan Kuba.
“Pertama permainan caturnya, Venezuela direbut dulu. Karena Venezuela direbut, pasokan minyak untuk Kuba tidak ada, lalu mereka menggelepar. Enggak ada listrik, enggak punya refrigerator untuk menyimpan makanan, enggak ada makanan yang bisa mereka konsumsi, dan sebagainya. Tinggal ditusuk aja dia, rontok,” terang Prof Suzie.
Nah buat Kawan Tutur yang ingin menyaksikan analisis mendalam dari Prof Suzie Sudarman dapat menonton langsung podcast Bang Don Zuper Opini yang akan tayang hari ini Jumat 26 Juni 2026 pukul 15.00 WIB di akun youtube Tutur TV. Daging semua……

