Bangkalan (tutur.co.id) – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan alasan gaji guru dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) belum bisa naik sesuai harapan. Alasan utamanya tak lain tak bukan karena memang anggaran negara terus terkuras akibat kebocoran dan keluarnya kekayaan nasional ke luar negeri.
“Saya ingin sampaikan dalam forum ini karena saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat harus mengerti kenapa gaji guru tidak bisa naik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa bai, kenapa anggarannya selalu kurang. Ya karena uangnya enggak ada, diambil terus,” kata Prabowo di Bangkalan, Jawa Timur.
Prabowo kemudian menjelaskan bahwadata perdagangan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diolah Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menunjukkan Indonesia sebenarnya mencatat keuntungan sebesar US$436 miliar atau Rp7.800 triliun dalam 22 tahun terakhir. Namun dalam periode yang sama, arus dana yang keluar dari Indonesia mencapai sekitar US$343 miliar.
“Begitu kayanya Republik kita, tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri. Jadi kita lihat dari neraca itu inflow, outflow. Selama 22 tahun uang yang keluar itu US$343 miliar,” kata Prabowo.
Dan salah satu sumber kebocoran itu datang dari praktik under-invoicing atau pelaporan nilai perdagangan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Menurutnya, praktik itu membuat sebagian nilai ekspor tidak tercatat secara utuh sehingga berpotensi mengurangi penerimaan negara.
Prabowo menambahkan, saat ini pemerintah tengah berupaya memperbaiki berbagai persoalan yang dinilai menyebabkan hilangnya potensi penerimaan negara tersebut. “Kebocoran kita, kita hitung para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih US$150 miliar tiap tahun, Rp2.500 triliun tiap tahun. Dan ini sedang saya perbaiki semua,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah memang sempat mengumumkan rencana peningkatan kesejahteraan guru. Namun hingga pertengahan 2026 belum ada kebijakan baru terkait kenaikan gaji guru maupun PNS.

