Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Suara Bising Klakson Bentuk Dukungan Demo Mahasiswa Menuju Bundaran HI
  • Aksi Saling Dorong Mahasiswa Kontra TNI Pecah di Bundaran HI
  • Danantara Pangkas BUMN Jadi 200-300 Entitas, Dony Oskaria Klaim Hemat Rp50 Triliun Tanpa PHK
  • Fenomena Home Bias dan Depresiasi Ekstrem Rupiah
  • Menanti Nyanyian Sony Sonjaya dalam Pusaran Skandal Korupsi MBG
  • BPKH Sambut Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dorong Optimalisasi Dana Rp180 Triliun
  • Bank Dunia: Kelas Menengah Indonesia Tergerus, Upah Riil Turun dan Pekerjaan Berkualitas Menyusut
  • Massa Aksi Demo Mahasiswa Dihadang Polisi saat Menuju Bundaran HI
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Opini»Fenomena Home Bias dan Depresiasi Ekstrem Rupiah

Fenomena Home Bias dan Depresiasi Ekstrem Rupiah

Opini Toto Pribadi12 Juni 2026 / 15:48 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Muhammad Syarkawi Rauf, Dosen FEB Unhas/ Ketua KPPU RI 2015–2018 (Foto: Tutur/Istimewa)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

FENOMENA “HOME BIAS” DAN DEPRESIASI EKSTREM RUPIAH

Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf 

Ada dua ekonom Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi rujukan dalam kajian ekonomi makro internasional, yaitu Maurice Obstfeld dari University of California, Berkeley dan Kenneth Rogoff dari Harvard University.

Artikelnya yang sangat populer berjudul “The Six Major Puzzles in International Macroeconomics: Is There a Common Cause?” Terdapat enam “teka-teki utama” dalam ekonomi makro internasional yang menjadi perhatian para ekonom dan pengambil kebijakan.

Salah satu dari enam “teka-teki utama” tersebut dan relevan dengan fenomena depresiasi ekstrim nilai tukar rupiah per dollar AS adalah home bias puzzle.

Home bias didefenisikan sebagai kecenderungan investor berinvestasi pada asset negaranya sendiri, meskipun pendapatan memegang asset negara lainnya lebih besar.

Di mana, sejak tahun 1990-an hingga 2000-an awal, terdapat sekitar 94 persen investor AS berinvestasi pada asset negaranya sendiri.

Fenomena home bias puzzle ini juga yang dapat menjelaskan mengapa model-model moneter penentuan nilai tukar menggunakan faktor fundamental menjadi tidak akurat memprediksi pergerakan nilai tukar.

Hal ini mengingatkan kita dengan pertanyaan Queen Elizabeth II, ratu Inggris saat berkunjung ke London School of Economics (LSE) pada bulan November 2008.

Sang ratu menantang para ekonom hebat di LSE terkait krisis keuangan dahsyat tahun 2008. Krisis keuangan terbesar sepanjang sejarah.

****

Pertanyaannya sederhana tetapi mendalam, “Why no one saw the financial crisis coming?” Pertanyaan ini yang kemudian menjadi headline media utama dunia, seperti The Guardian, Telegraph, New York Time dan lainnya.

Frekuensi krisis keuangan semakin tinggi. Dan tidak satupun dari krisis tersebut dapat diprediksi secara tepat oleh para ekonom. Model proyeksi ekonomi diharapkan sama dengan model proyeksi cuaca yang dapat menentukan kapan akan terjadi hujan atau cerah.

Ekonom dan ilmu ekonomi harus berbenah secara fundamental. Alhasil, hingga wafat, ratu Elizabeth II belum juga mendapatkan jawaban dari para ekonom atas pertanyaannya tersebut.

Hal ini sejalan dengan kuliah pemenang hadiah nobel ekonomi, Paul Krugman di LSE berjudul “crisis in the economy and economics”. Atau krisis ekonomi dan ilmu ekonomi.

Baca Juga  Video: Jaga Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Akan Batasi Pembelian Dolar

Kuliah ini kemudian terbit di majalah sangat populer di dunia yang berbasis di London, Inggris, The Economist, dengan artikel berjudul “Dismal Science” pada edisi 11 Januari 2009. Atau sains yang suram.

Hal yang sama juga diingatkan oleh ekonom senior AS, Ben Bernanke (2009) bahwa para ekonom harus bekerja dengan sistem (model ekonomi) yang sangat kompleks karena perekonomian menghadapi tekanan bersifat random, ketersediaan data terbatas, dan pengetahuan yang selalu tidak sempurna.

****

Ahli matematika dan meteorolog, Edward Lorenz (1917 – 2008), memperkenalkan istilah “butterfly effect”. Dalam membuat proyeksi, sekecil apapun perubahan yang terjadi pada kondisi mula-mula (initial condition) akan mempengaruhi hasil proyeksi.

Sebagai contoh, model moneter prediksi nilai tukar menggunakan faktor fundamental yang paling populer dan banyak digunakan para pengambil kebijakan. Pendekatan ini menjadi paradigma paling dominan sejak tahun 1970-an hingga saat ini.

Model moneter proyeksi nilai tukar didasarkan pada dua fondasi utama (building block), yaitu kondisi Purchasing Power Parity (PPP) dan Uncovered Interest Rate Parity (UIP) berlaku. Nilai tukar dinyatakan sebagai selisih harga dan suku bunga antara dua negara.

Perubahan kurs rupiah per dollar AS tergantung pada selisih inflasi (perubahan Indeks Harga Konsumen – IHK) Indonesia dengan AS. kenaikan inflasi di AS membuat nilai tukar rupiah per dollar AS menguat.

Sebaliknya, kenaikan inflasi di Indonesia menyebabkan selisih inflasi Indonesia dengan AS naik yang membuat nilai tukar rupiah per dollar AS melemah.

Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah per dollar AS melemah dari Rp. 16.669,8 per dollar AS pada 1 Januari 2026 menjadi Rp. 18.161 per dollar AS pada 10 Juni 2026.

Fluktuasi nilai tukar rupiah per dollar AS juga tergantung pada selisih suku bunga Indonesia dengan AS. Suku bunga Indonesia diukur dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), disebut BI rate. Suku bunga AS diukur dengan The Fed policy rate, yaitu Federal Fund Rate (FFR).

Baca Juga  Obituari: Mengenang & Menghargai Entrepreneur Bambang Hartono

Kenaikan FFR membuat selisih suku bunga Indonesia dengan AS meningkat. Ekspektasi depresiasi rupiah per dollar AS juga meningkat.

Sehingga untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS maka kenaikan FFR akan diikuti oleh kenaikan BI rate. Harapannya ekspektasi depresiasi akan kembali menurun.

****

Singkatnya, menurut Meese dan Rogoff (1983a), fluktuasi nilai tukar suatu mata uang tergantung pada beberapa indikator makro ekonomi yang populer dengan sebutan faktor fundamental.

Jika faktor fundamental buruk maka nilai tukar melemah. Sebaliknya, jika faktor fundamental baik maka nilai tukar menguat.

Artinya, fluktuasi nilai tukar rupiah per dollar AS ditentukan oleh selisih pertumbuhan jumlah uang beredar (money supply), pertumbuhan ekonomi, suku bunga, balance of payment dan inflasi antara Indonesia dengan AS.

Faktanya, pada saat kondisi fundamental mata uang rupiah baik, namun rupiah terus melemah terhadap dollar AS.

Fenomena di atas dapat disebabkan oleh perilaku home bias yang memicu net outflow modal asing dari instrumen keuangan dalam negeri.

Perilaku home bias kemudian memicu depresiasi ekstrim rupiah per dollar AS, menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan membuat harga surat berharga negara turun (yield-nya naik).

Lalu, langkah apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan BI? Pertama, mengeliminir information assymetries antar pelaku pasar. Di mana biaya untuk mencari dan memproses informasi dibuat menjadi sangat rendah.

Kedua, menghilangkan hambatan regulasi ketika berinvestasi di berbagai instrumen keuangan di dalam negeri. Tidak ada perbedaan aturan main ketika berinvestasi di pasar domestik maupun luar negeri (konvergensi regulasi pasar).

Ketiga, menurunkan currency risk premium yang mempengaruhi persepsi risiko investor global terhadap perekonomian nasional. Jika currency risk risk premium naik maka country risk premium juga naik.

Langkah-langkah tersebut akan mendorong diversifikasi portofolio internasional antar negara. Mengurangi risiko berinvestasi bagi investor global. Dan akhirnya, memperkuat integrasi keuangan global.

*) Dosen FEB Unhas/ Ketua KPPU RI Tahun 2015 – 2018

home bias Makro Muhammad Syarkawi Rauf nilai tukar rupiah Opini
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleMenanti Nyanyian Sony Sonjaya dalam Pusaran Skandal Korupsi MBG
Next Article Danantara Pangkas BUMN Jadi 200-300 Entitas, Dony Oskaria Klaim Hemat Rp50 Triliun Tanpa PHK

Berita Lainnya

Rupiah Tembus Rp18.176 dan IHSG Ambles 4 Persen, Waspada Efek Domino

08 Juni 2026 / 17:49 WIB

Tutur PoV: Perjalanan Luar Negeri Presiden dan Kritik Akuntabilitas Anggaran

06 Juni 2026 / 19:20 WIB

Opini: Ketika Trust Ambruk dan Angka Tak Lagi Menolong

06 Juni 2026 / 18:30 WIB

Rupiah Babak Belur Dihajar Dolar AS, DPR Ingatkan Pemerintah

04 Juni 2026 / 12:39 WIB

Rupiah Porak Poranda Sentuh Rp18.000, Terlemah Sepanjang Sejarah

04 Juni 2026 / 11:10 WIB

Rupiah Menguat Pagi Hari Ini di Level Rp17.840 per Dolar AS

01 Juni 2026 / 10:37 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Ubaidillah Tampil Gemilang, Indonesia Tundukkan Thailand 3-2

Deba Salamah27 April 2026 / 02:00 WIB

Suara Bising Klakson Bentuk Dukungan Demo Mahasiswa Menuju Bundaran HI

12 Juni 2026 / 17:05 WIB

Aksi Saling Dorong Mahasiswa Kontra TNI Pecah di Bundaran HI

12 Juni 2026 / 16:36 WIB

Danantara Pangkas BUMN Jadi 200-300 Entitas, Dony Oskaria Klaim Hemat Rp50 Triliun Tanpa PHK

12 Juni 2026 / 16:32 WIB

Fenomena Home Bias dan Depresiasi Ekstrem Rupiah

12 Juni 2026 / 15:48 WIB

Menanti Nyanyian Sony Sonjaya dalam Pusaran Skandal Korupsi MBG

12 Juni 2026 / 15:39 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.