Yogyakarta (tutur.co.id)– Polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perbincangan setelah muncul kasus dugaan korupsi yang menyeret sejumlah pihak. Di tengah rasa kecewa dan kekhawatiran masyarakat, sebagian ibu memilih tetap fokus pada satu hal yang menurut mereka paling penting: memastikan anak tetap makan dan berangkat sekolah dengan bekal yang layak.
Bagi banyak keluarga, terutama dengan kondisi ekonomi yang terbatas, urusan makanan anak bukan sekadar soal menu ideal, tetapi tentang bagaimana bertahan setiap hari di tengah harga kebutuhan yang terus naik.
Seorang wali murid sekolah dasar swasta di Yogyakarta, Siti (50), mengaku polemik yang muncul membuatnya sedih sekaligus bingung. Namun sebagai ibu, ia merasa tetap harus memikirkan kebutuhan makan anak sehari-hari.
“Awalnya saya terbantu dengan MBG. Nah, sekarang dengar ada korupsi ya kecewa pasti. Soalnya yang dibahas itu untuk makan anak-anak. Tapi di sisi lain, kami orang tua tetap butuh bantuan juga. Kadang bikin bekal sederhana saja sudah mikir harus hemat,” ujarnya.
Menurutnya, menu bergizi sebenarnya tidak harus mahal. Ia biasa menyiapkan nasi, telur, tempe, dan sayur sederhana sebagai bekal sekolah anak.
“Yang penting anak makan dulu, ada tenaga buat belajar. Kadang cuma telur orak-arik tambah pisang. Buat kami itu sudah syukur,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, banyak ibu justru saling berbagi cara menyiapkan bekal murah namun tetap bergizi. Menu sederhana seperti nasi, telur, sayur bening, hingga buah terjangkau seperti pisang dan pepaya menjadi pilihan yang paling realistis bagi banyak keluarga.
Bagi para ibu, bekal sekolah bukan tentang kemewahan isi kotak makan, melainkan bentuk perhatian sederhana agar anak tetap sehat dan semangat belajar. Polemik boleh terus berjalan, namun bagi sebagian keluarga, perjuangan memenuhi gizi anak tetap berlangsung setiap pagi dari dapur rumah masing-masing.

