Canberra (tutur.co.id) – Australia mulai bersiap menghadapi kemungkinan datangnya fenomena El Niño dalam beberapa bulan mendatang. Sejumlah lembaga iklim, termasuk Bureau of Meteorology (BoM), memperkirakan peluang terbentuknya El Niño kini semakin besar. Para ilmuwan menilai berbagai model iklim global mulai menunjukkan pola yang konsisten menuju fase cuaca tersebut.
El Niño merupakan fase hangat dari siklus El Niño-Southern Oscillation (ENSO), salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi cuaca di berbagai belahan dunia. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah Samudra Pasifik tropis menjadi lebih hangat dari biasanya. Perubahan tersebut kemudian memengaruhi pola sirkulasi atmosfer dan distribusi curah hujan secara global.
Bagi Australia, El Niño biasanya identik dengan cuaca yang lebih panas dan lebih kering, terutama di wilayah timur dan selatan negara tersebut. Data historis menunjukkan sebagian besar musim dingin dan musim semi paling kering yang pernah tercatat terjadi saat El Niño berlangsung. Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, hingga pemutihan terumbu karang.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa dampak El Niño tidak selalu sama pada setiap kejadian. Selain ENSO, kondisi cuaca Australia juga dipengaruhi faktor lain seperti Indian Ocean Dipole dan Southern Annular Mode. Karena itu, kekuatan El Niño tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keparahan dampak yang dirasakan di lapangan.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bahkan memperkirakan peluang terbentuknya El Niño sebelum November mencapai sekitar 90 persen. Prediksi tersebut memperkuat pandangan bahwa dunia kemungkinan akan kembali memasuki periode cuaca ekstrem dalam waktu dekat. Sejumlah model iklim juga mengindikasikan bahwa El Niño kali ini berpotensi memiliki kekuatan moderat hingga kuat.
Para pakar iklim menilai kombinasi El Niño dan perubahan iklim global dapat menjadi tantangan serius. Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi cuaca panas ekstrem, sementara El Niño berpotensi memperparah kondisi tersebut. Akibatnya, wilayah yang biasanya mengalami kekeringan bisa menjadi lebih kering, sementara pola cuaca ekstrem lainnya juga dapat semakin intens.
Meski belum resmi dinyatakan aktif, tanda-tanda kemunculan El Niño semakin jelas terlihat. Pemerintah, sektor pertanian, dan masyarakat di Australia kini mulai diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi perubahan cuaca dalam beberapa bulan mendatang. Jika prediksi ini terwujud, El Niño akan menjadi salah satu faktor utama yang membentuk kondisi iklim Australia sepanjang musim dingin hingga musim semi tahun ini.

