Jakarta (tutur.co.id) — Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam kondisi oversold dan berpeluang mengalami technical rebound apabila pemerintah mampu memberikan kepastian arah kebijakan ekonomi.
Dalam Strategy Notes & JCI Technical View, Nafan menyebutkan level support IHSG berada di 6.262 dan 6.081, sedangkan resistance berada di 6.590 dan 6.715.
“Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid, saham bervaluasi murah, serta saham yang menunjukkan arah pembalikan tren. Investor juga perlu disiplin dalam menerapkan manajemen risiko,” ujar Nafan di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Secara teknikal, IHSG dinilai masih menunjukkan kondisi jenuh jual berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI) dan telah berhasil menguji target “wave 5/A”. Meski demikian, terdapat area support tambahan pada “wave 5/A alt.” yang masih perlu dicermati pelaku pasar.
Di sisi lain, indikator Stochastic K_D masih menunjukkan sinyal negatif, meski volume perdagangan mulai mengalami peningkatan.
Data perdagangan mencatat asing membukukan net foreign buy harian sebesar Rp306,34 miliar. Namun secara year to date (YTD), investor asing masih mencatatkan net foreign sell mencapai Rp51,09 triliun dengan kinerja IHSG turun 26,32 persen sepanjang tahun berjalan.
Menurut Nafan, perhatian utama investor saat ini tertuju pada pidato arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR.
Pasar menunggu kejelasan mengenai arah kebijakan fiskal, strategi menjaga stabilitas makroekonomi, serta langkah konkret pemerintah dalam merespons tekanan pasar keuangan.
“Apabila pidato ini memberikan kepastian dan keberpihakan pada stabilitas pasar, peluang terjadinya technical rebound terbuka lebar. Sebaliknya, bila dinilai kurang konkret, tekanan jual bisa berlanjut,” jelasnya.
Selain itu, pelaku pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait penetapan BI-Rate.
Nafan memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, berbeda dengan konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.706 per dolar Amerika Serikat.
Ia menilai BI tidak akan mengorbankan ruang pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal hanya untuk merespons pelemahan rupiah secara reaktif melalui kenaikan suku bunga, melainkan lebih memilih intervensi langsung di pasar.
Dari faktor global, dinamika geopolitik Amerika Serikat dan Iran masih menjadi sentimen utama pasar. Presiden Donald Trump menegaskan negosiasi serius masih berlangsung dan diharapkan menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima semua pihak di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Iran meminta pencabutan sanksi ekonomi, pencairan dana, serta penghentian blokade Amerika Serikat terhadap berbagai pelabuhan mereka.
Tekanan pasar global juga datang dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke level 4,66 persen, tertinggi dalam 16 bulan terakhir. Sementara yield tenor 30 tahun melonjak ke 5,18 persen, level tertinggi dalam 18 tahun.
Kondisi tersebut memicu koreksi di Wall Street, terutama pada saham teknologi seperti Qualcomm, Cisco, Alphabet, dan Broadcom.
Tiga indeks utama Bursa AS ditutup melemah, yakni Nasdaq turun 0,8 persen, S&P 500 turun 0,7 persen, dan Dow Jones terkoreksi 0,7 persen.
Sementara itu, bursa saham Eropa bergerak bervariasi di tengah kenaikan tingkat pengangguran Inggris menjadi 5 persen pada periode tiga bulan hingga Maret dari sebelumnya 4,9 persen. Meski demikian, indeks pan-Eropa Stoxx Europe 600 masih mampu menguat tipis 0,2 persen.

