Jakarta (tutur.co.id) —Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan pasar saham domestik tetap bergerak konstruktif sepanjang 2026. Sekuritas asal Korea Selatan tersebut optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menanjak hingga level 10.500, seiring prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik dan potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan optimisme tersebut didukung oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam jangka menengah serta peluang penguatan sinergi kebijakan moneter dan fiskal.
Momentum positif pasar tercermin dari keberhasilan IHSG menembus level psikologis 9.000 untuk pertama kalinya. Pada Rabu (14/1/2026), IHSG ditutup menguat 0,94% ke posisi 9.032,58, sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar,” ujar Rully, Rabu (14/1/2026).
Di sisi lain, tekanan eksternal masih membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen risk-off global mendorong penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak April 2025, rupiah ditutup di atas level Rp16.800 per dolar AS. Pada akhir perdagangan Rabu, rupiah di pasar spot melemah ke posisi Rp16.865 per dolar AS.
Menurut Rully, kombinasi inflasi yang relatif tinggi dan pelemahan rupiah membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas. Bank Indonesia dinilai memiliki ruang yang sangat sempit untuk menurunkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026.
Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter diperkirakan akan tetap berhati-hati. Namun demikian, pasar saham dinilai masih berpotensi bergerak positif karena pelaku pasar lebih berorientasi pada prospek ekonomi ke depan.
“Pasar cenderung forward looking. Selama ada keyakinan bahwa kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan, prospek pasar saham tetap positif,” kata Rully.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai 5,3%. Capaian tersebut sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif serta menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG di level 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” pungkasnya.

