Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia dibuka menguat pada perdagangan Senin (20/4/2026), seiring pelaku pasar yang masih bersikap hati-hati menanti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Pada awal sesi perdagangan, IHSG naik 29,40 poin atau 0,39 persen ke level 7.663,40. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga menguat 0,24 persen ke posisi 760,70.
Analis melihat penguatan ini masih berada dalam fase konsolidasi, di mana pergerakan indeks cenderung terbatas dan rentan volatil. Sentimen utama datang dari ekspektasi keputusan suku bunga BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan digelar pekan ini. Konsensus pasar memperkirakan suku bunga acuan tetap berada di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan level teknikal menjadi perhatian penting pelaku pasar dalam jangka pendek.
“Secara teknikal, area 7.773 menjadi resistance terdekat yang cukup krusial, di mana jika berhasil ditembus bisa membuka ruang kenaikan lanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama indeks belum mampu menembus level tersebut, potensi koreksi tetap perlu diwaspadai.
“Selama masih tertahan, potensi pullback tetap perlu diwaspadai. Sementara itu, level 7.308 menjadi support penting yang akan menjadi penopang apabila terjadi tekanan,” jelasnya.
Sepanjang pekan ini, IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan volatil. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan global, termasuk belum stabilnya aliran dana asing serta dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Dari sisi global, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi penting. Dari China, perhatian tertuju pada rilis Loan Prime Rate (LPR) yang menjadi indikator arah kebijakan moneter. Sementara dari Amerika Serikat, data penjualan ritel (retail sales) akan menjadi tolok ukur kekuatan konsumsi yang menjadi motor utama ekonomi negara tersebut.
Selain itu, data persediaan minyak mentah AS juga dinilai krusial di tengah tingginya sensitivitas pasar terhadap isu pasokan energi global. Perubahan data ini berpotensi memengaruhi harga minyak dan pada akhirnya berdampak ke sentimen pasar saham, termasuk di Indonesia.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan kebijakan moneter dan dinamika global yang dapat memicu pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

