Jakarta (tutur.co.id) — Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) menyatakan dukungan terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang berupaya mencari sumber pasokan bahan bakar ke Rusia melalui rencana pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin. Di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada sektor energi global, langkah ini dinilai sebagai strategi antisipatif untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Gubernur Lemhannas TB Ace Hasan Syadzily menilai, upaya tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang tepat untuk memastikan ketersediaan energi dalam negeri tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
“Mencari sumber-sumber energi, termasuk rencana beliau ke Rusia, tentu adalah bagian dari upaya beliau dalam rangka pemenuhan kebutuhan dalam negeri kita,” ujar Ace dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu.
Menurut Ace, dinamika geopolitik global saat ini menuntut pemerintah untuk lebih adaptif dalam mengamankan pasokan energi. Ketergantungan pada kawasan tertentu, khususnya Timur Tengah, membuat negara-negara termasuk Indonesia perlu melakukan diversifikasi sumber energi guna meminimalkan risiko gangguan suplai.
Ia menambahkan, posisi Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas aktif dan tidak terikat pada blok tertentu menjadi keunggulan tersendiri dalam menjalin kerja sama internasional. Dengan status non-blok tersebut, Indonesia memiliki fleksibilitas untuk membangun kemitraan strategis dengan berbagai negara, termasuk Rusia, tanpa terbebani kepentingan geopolitik tertentu.
Dalam konteks hubungan bilateral, Indonesia dan Rusia juga memiliki rekam jejak kerja sama yang relatif kuat, termasuk di sektor pertahanan dan sejumlah bidang strategis lainnya. Hal ini dinilai menjadi modal penting dalam memperluas kerja sama ke sektor energi.
Ace berharap, rencana kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia dapat menghasilkan kesepakatan konkret yang berdampak langsung terhadap penguatan ketahanan energi nasional. Pemerintah, kata dia, berupaya menghindari potensi kelangkaan energi yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Karena Pak Presiden tidak ingin rakyat di Indonesia mengalami kelangkaan energi sehingga berdampak terhadap ketahanan energi nasional,” kata Ace.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa rencana kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri. Ia menegaskan, komunikasi dengan sejumlah negara memang tengah dilakukan, khususnya dalam menjajaki peluang kerja sama di sektor energi.
“Ya ada rencana demikian, tapi untuk pastinya nanti Kementerian Luar Negeri akan menyampaikan. Ada beberapa negara yang tentunya sudah kerja sama,” ujar Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Menurutnya, pemerintah saat ini terus membuka opsi kerja sama dengan berbagai mitra internasional sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan nasional, terutama di sektor energi yang sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global.
Langkah diplomasi energi yang ditempuh pemerintah ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan domestik dan dinamika global. Di tengah tekanan konflik internasional dan potensi gangguan pasokan, pendekatan proaktif melalui kerja sama lintas negara menjadi salah satu kunci untuk memastikan stabilitas energi Indonesia tetap terjaga.

