Jakarta (tutur.co.id) — Langkah Presiden Prabowo Subianto yang berencana menemui Presiden Rusia Vladimir Putin dinilai sebagai manuver diplomasi penting di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Di saat konflik di berbagai kawasan, terutama Timur Tengah, terus memicu ketidakpastian, pendekatan dialog dinilai menjadi salah satu jalan paling realistis untuk meredakan eskalasi yang berdampak luas, termasuk terhadap ekonomi dunia.
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) TB Ace Hasan Syadzily menegaskan, inisiatif tersebut mencerminkan komitmen Indonesia dalam memainkan peran konstruktif di panggung global. Ia menilai, pertemuan antara Prabowo dan Putin bukan sekadar agenda bilateral, melainkan bagian dari upaya lebih luas untuk mendorong stabilitas internasional.
“Langkah diplomatik Presiden Prabowo untuk bertemu Presiden Vladimir Putin patut kita apresiasi, terutama dalam upaya mencari solusi atas konflik geopolitik yang dampaknya dirasakan oleh banyak negara,” ujar Ace dalam pembukaan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Ikatan Alumni Lemhannas (Ikal Lemhannas) di Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Dalam pandangan Lemhannas, dinamika geopolitik saat ini telah melampaui isu keamanan semata dan semakin berkelindan dengan kepentingan ekonomi global. Ketegangan di kawasan strategis energi seperti Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan harga energi, mengganggu rantai pasok global, hingga menekan stabilitas nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia. Situasi ini menempatkan diplomasi sebagai instrumen krusial untuk menahan dampak lanjutan yang lebih dalam.
Ace menekankan bahwa stabilitas geopolitik global tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ekonomi. Ketika konflik membesar, tekanan terhadap perekonomian akan semakin nyata, baik melalui inflasi energi maupun ketidakpastian pasar keuangan. Karena itu, langkah-langkah diplomatik yang proaktif dinilai sebagai bentuk mitigasi risiko di tengah kondisi global yang rapuh.
Rencana pertemuan Prabowo dengan Putin juga dinilai mencerminkan posisi Indonesia yang konsisten dengan politik luar negeri bebas aktif, yakni menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan besar tanpa terjebak dalam blok tertentu. Dalam konteks ini, Indonesia berupaya memainkan peran sebagai jembatan dialog, sekaligus mengamankan kepentingan nasional di sektor strategis seperti energi.
Menteri Luar Negeri Sugiono sebelumnya menyampaikan bahwa kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia akan mencakup pembahasan isu geopolitik global dan situasi energi. Agenda tersebut dinilai relevan mengingat energi menjadi salah satu sektor paling terdampak dari eskalasi konflik internasional.
“Beliau akan bertemu dengan Presiden Putin dan juga akan membahas mengenai geopolitik dunia dan juga yang pasti membahas tentang situasi energi,” ujar Sugiono.
Di tengah konteks global tersebut, Munaslub Ikatan Alumni Lemhannas 2026 juga menjadi momentum penting bagi konsolidasi pemikiran strategis nasional. Forum ini digelar untuk memilih ketua umum baru setelah Agum Gumelar mengundurkan diri usai memimpin selama empat periode. Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Wiranto, Purnomo Yusgiantoro, Djoko Suyanto, Gatot Nurmantyo, serta Budi Susilo Soepandji.
Melalui forum tersebut, diharapkan lahir kepemimpinan baru yang mampu memperkuat kontribusi alumni Lemhannas dalam menjaga ketahanan nasional di tengah lanskap global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, kombinasi antara diplomasi aktif dan penguatan kapasitas nasional dinilai menjadi kunci bagi Indonesia untuk tetap stabil sekaligus adaptif menghadapi perubahan dunia.

