Jakarta (tutur.co.id) – Ada berkah dari setiap musibah. Pepatah ini mungkin tepat untuk disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, terkait gonjang-ganjing geopolitik saat ini.
Bagaimana tidak, di tengah acaman krisis energi yang diperparah dengan situasi terakhir di Selat Hormuz justru semakin mendorong transformasi Kendaraan Listrik (EV) termasuk di Indonesia. Hal itu diungkapkan Moeldoko saat menjadi pembicara di forum Tutur Economic Dialogue (TREND) 2026, Selasa 7 April 2026.
“Yang jadi pertanyaan, siapa yang mau mengambil kesempatan ini. Indonesia bukan sekedar pasar, kita memiliki semua elemen kunci baterai EV dalam satu wilayah. Ini pondasi yang kuat untuk menjadi pemain strategis, bukan hanya sekadar jadi penonton,” kata Moeldoko.
Pernyataan Moeldoko ini bukan tanpa data. Indonesia punya 21 persen cadangan nikel dunia dan tercatat sebagai produsen kobalt terbesar kedua di dunia. Begitu juga dengan cadangan Mangan yang berguna untuk industri baterai.
Berbicara pasar, lanjut Moeldoko, Indonesia saat ini juga telah menjelma menjadi pasar yang sangat besar untuk urusan kendaraan bermotor. Ada sekitar 174 juta kendaraan bermotor di tanah air.
Moeldoko juga tampak pede, jika momentum transformasi kendaraan listrik ini dapat dioptimalkan akan punya multi efek seperti penyerapan tenaga kerja hingga 1,5 juta (2035), tambahan PDB sekitar 0,5-1% (2030) dan kontribusi PDB yang diproyeksikan Periklindo sekitar 2-3% di 2035.
“Kita harus membangun deep industrial ecosystem dari hulu ke hilir. Mulai dari sumber daya, pengolahan lanjutan, manufaktur baterai dan kendaraan, pasar domestik dan infrastruktu serta daur ulang baterai,” kata Moeldoko.
Moeldoko menambahkan, sejatinya ada tiga komponen ekosistem kendaraan listrik yang paling krusial. Pertama, kebijakan yang kuat yang diterjemahkan lewat roadmap EV nasional yang memperkuat posisi industri lokal dalam kerja sama dengan raksasa EV dunia.
“Kedua soal baterai lokal. Baterai itu 40 persen dari harga kendaraan listrik. Dengan mempercepat realisasi pabrik sel baterai Karawang agar harga EV semakin kompetitif untuk rakyat,” kata Moeldoko.
Terakhir atau yang ketiga adalah infrastruktur SPKL dengan segera melakukan standarisasi colokan dan pembayaran. Menurut Moeldoko, SPKL idealnya harus ada radius 5-10 km di kota besar dan jalur logistik utama.

