Jakarta (tutur.co.id)– Momen Lebaran identik dengan kebahagiaan, kebersamaan, dan kehangatan keluarga. Rumah yang biasanya sepi mendadak ramai, penuh tawa, dan obrolan lintas generasi. Namun, setelah semua kembali ke rutinitas masing-masing, ada satu kondisi yang kerap luput dari perhatian: post Eid blues, terutama pada lansia.
Post Eid blues adalah kondisi emosional yang muncul setelah perayaan usai. Jika pada orang dewasa atau anak muda kondisi ini sering dikaitkan dengan rasa lelah atau kembali ke rutinitas, pada lansia dampaknya bisa lebih dalam—yakni perasaan kehilangan, kesepian, hingga penurunan suasana hati.
Mengapa Lansia Rentan Mengalami Post Eid Blues?
Bagi lansia, Lebaran bukan sekadar hari raya, tetapi momen langka untuk berkumpul lengkap dengan anak dan cucu. Ketika rumah kembali sunyi, perubahan suasana yang drastis ini dapat memicu rasa hampa.
Selain itu, lansia cenderung memiliki lingkar sosial yang lebih terbatas. Aktivitas harian yang monoton membuat kehadiran keluarga saat Lebaran menjadi sesuatu yang sangat dinanti. Ketika momen itu berakhir, tidak jarang muncul perasaan “kehilangan” yang cukup kuat.
Ahli geriatri, dr. Esthika, dalam unggahan Instagramnya menyebut bahwa perubahan suasana secara tiba-tiba setelah momen besar seperti Lebaran memang dapat berdampak pada kondisi emosional lansia.
“Lansia sangat bergantung pada koneksi emosional dengan keluarga. Ketika interaksi yang intens tiba-tiba berkurang, perasaan sepi bisa muncul lebih kuat,” tulisnya.
Ia juga menekankan bahwa kondisi ini wajar terjadi, namun tetap perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan
Post Eid blues pada lansia bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti:
• Mudah merasa sedih atau murung tanpa sebab jelas
• Kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas harian
• Menarik diri dari interaksi sosial
• Gangguan tidur atau perubahan nafsu makan
• Lebih sering melamun atau mengingat momen kebersamaan saat Lebaran
Jika berlangsung lebih dari dua minggu, kondisi ini sebaiknya mulai mendapat perhatian lebih serius.
Peran Keluarga Sangat Penting
Kehadiran keluarga tidak harus selalu secara fisik. Di era digital, komunikasi bisa tetap terjaga melalui telepon atau video call. Hal sederhana seperti menyapa secara rutin bisa memberi dampak besar bagi kondisi emosional lansia.
Selain itu, penting juga untuk membantu lansia tetap memiliki aktivitas yang bermakna. Misalnya, mengajak mereka ikut kegiatan sosial di lingkungan sekitar, berkebun, atau menjalankan hobi yang disukai.
Memberikan rutinitas yang stabil setelah Lebaran juga bisa membantu lansia beradaptasi kembali dengan suasana sehari-hari.
Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Agar post Eid blues tidak terlalu berdampak, keluarga bisa mulai mengantisipasi sejak sebelum Lebaran berakhir. Misalnya, dengan membuat rencana kunjungan berikutnya, atau menjadwalkan aktivitas bersama di waktu mendatang.
Dengan begitu, lansia tetap memiliki sesuatu yang dinantikan, sehingga perasaan kehilangan tidak terasa terlalu berat.
Pada akhirnya, perhatian kecil dan konsisten dari keluarga menjadi kunci utama. Karena bagi lansia, kebahagiaan sering kali hadir dari hal sederhana: merasa diingat, didengar, dan tidak sendiri.

