Jakarta (tutur.co.id) – Usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi untuk menempatkan gerbong wanita di tengah rangkaian langsung membuat geger. Pernyataan yang muncul akibat kecelakaan tabrakan kereta api di Stasiun Bekasi itu dianggap tidak solutif dan terkesan absurd.
Hal itu diungkapkan dosen sekaligus konsultan Yayasan Lentera Anak, Reza Indragiri. Pasalnya, solusi yang disampaikan Menteri PPPA itu terkesan justru untuk menumbalkan laki-laki bukannya mencari solusi untuk mencegah terjadinya kecelakaan kedepannya.
“Betapa absurdnya usulan Menteri PPPA ini. Dalam situasi kecelakaan seberat ini, penanganan tidak sepatutnya didasarkan pada jenis kelamin penumpang. Seolah Menteri ingin mengatakan, ketika terjadi tabrakan kereta, jumlah korban perempuan harus dikurangi dan penumpang lelaki juga patut menjadi korban dengan jumlah yang setara,” kata Reza Indragiri kepada redaksi.
Masih menurut Reza, berkali-kali ia menekankan selalu berempati terhadap penumpang perempuan yang berulang menjadi korban pelecehan seksual, walau juga harus disadarai bahwa penumpang lelaki juga bisa bahkan telah menjadi korban pidana serupa. Karena itulah Commuter Line sudah mengambil ikhtiar menurunkan risiko yang patut didukung, yakni dengan mengadakan kereta khusus perempuan.
“Tapi, sekali lagi, ketika terjadi benturan fatal yang bisa memakan korban jiwa, lelaki dan perempuan sama-sama memiliki cuma satu nyawa. Menjadi penumpang di kereta yang dihantam rangkaian lain, akan menghadap-hadapkan mereka pada risiko maut yang sama. Penumpang lelaki yang berada di kereta paling depan dan paling belakang berhadapan dengan kekritisan yang sama dengan penumpang perempuan di posisi kereta yang sama,” kata Reza.
Masih menurut Reza, jenis kelamin bukan unsur yang relevan. Keamanan sebagai penumpang kereta adalah hak semua orang, apa pun jenis kelaminnya. Baik di kereta depan, tengah, maupun belakang. Dan ketika penumpang perempuan maupun penumpang lelaki menjadi korban, kedukaannya sama. Mereka patut mendapat perhatian yang sama, jaminan asuransi yang sama.
“Sesering apa Bu Menteri berkeliling memakai KRL? Mencari solusi harus dimulai dari kejernihan berpikir, Bu Menteri,” tegas Reza Indragiri.

