Tangerang (tutur.co.id) – Usai mengalami penahanan dan penyiksaan oleh militer Israel, wartawan Tempo Andre Prasetyo Nugroho justru menunjukkan sikap tegas. Ia mengaku tidak kapok dan bertekad akan berlayar lagi menembus blokade Israel dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF).
Hal itu dikatakan Andre saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu 24 Mei 2026 bersama 8 aktivis lain yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
“Yang saya bakal kasih lihat kepada dunia bahwa penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap negara Palestina, itu masih terjadi hingga hari ini. Buktinya adalah saya dan ratusan aktivis lainnya dari 40 negara lebih yang terus berusaha untuk berlayar menembus blokade,” ujar Andre.
Wartawan muda itu mempertanyakan mengapa armada kemanusiaan yang berlayar di laut internasional dicegat dan ditangkap. Menurutnya, tidak ada negara yang berhak mengklaim laut internasional.
“Apa salahnya kami berlayar menembus lautan internasional yang mana itu tidak ada negara satu pun yang berhak mengklaim? Tapi kenapa kami ditangkap? Ini harusnya menjadi informasi, wawasan untuk kepada para pembaca ataupun para penonton nantinya,” katanya.
Ketika disinggung apakah kejadian ini membuatnya trauma dan tak akan ikut lagi dalam misi kemanusiaan bersama GSF, Andre membatah secara tegas.
“Enggak ada kapok-kapoknya. Saya bakal berlayar lagi,” ujarnya.
Dalam kesempatannya, wartawan berusia 27 tahun itu juga merespons soal komentar warganet yang bertanya kenapa ia tampak bahagia usai ditahan.
“Untuk apa saya takut disiksa Israel? Harusnya Israel yang takut kepada kami karena kami melawan,” tegasnya.
Lebih lanjut Ia mengucapkan terima kasih kepada Tempo yang telah memberinya kesempatan berlayar untuk melakukan liputan perjalanan para aktivis kemanusiaan.
“Terima kasih untuk Tempo akhirnya saya bisa ke luar negeri pertama kalinya meskipun ujung-ujungnya ditangkap. Terima kasih sekali,” pungkas Andre.

