Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidasi pada perdagangan Rabu (4/2/2026), seiring meredanya tekanan jual dan munculnya sentimen pemulihan pasar. Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang support 7.950, pivot 8.180, dan resistance 8.400.
Dalam riset terbarunya, Phintraco Sekuritas menyebutkan IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat 2,52% ke level 8.122,6, meski sempat dibuka di zona merah. Rebound tersebut ditopang oleh penguatan indeks saham Asia, kenaikan harga komoditas, serta ekspektasi reformasi pasar modal Indonesia yang tengah dikomunikasikan dengan MSCI.
“Penguatan juga didorong oleh bargain hunting terhadap saham-saham yang dinilai sudah berada di level valuasi menarik,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (4/2/2026).
Seluruh sektor mencatatkan penguatan, dengan sektor basic materials menjadi penopang utama kenaikan IHSG. Di sisi lain, nilai tukar rupiah turut menguat dan ditutup di level Rp16.754 per dolar AS di pasar spot pada Selasa (3/2/2026).
Secara teknikal, Stochastic RSI IHSG membentuk Golden Cross di area oversold, yang mengindikasikan potensi kelanjutan penguatan meski dengan pergerakan terbatas. IHSG juga sempat menembus moving average (MA) 200, sebelum akhirnya ditutup kembali di atas MA200 sekaligus di atas level psikologis 8.000.
“Dengan kondisi tersebut, IHSG hari ini berpotensi bergerak konsolidatif di kisaran 7.950–8.400,” papar Phintraco Sekuritas.
Transparansi Pasar Modal dan Sentimen Global
Dari sisi kebijakan, Phintraco Sekuritas menyoroti langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) yang berencana membuka data kategori investor pasar modal. Jumlah klasifikasi investor akan diperluas dari 9 kelas menjadi 27 subkelas, sesuai dengan permintaan transparansi dari MSCI.
Ke depan, data tersebut akan mencakup berbagai kategori investor, mulai dari private equity, pemerintah, hingga peer to peer lending (pinjaman online). Selain itu, data investor juga akan diklasifikasikan berdasarkan afiliasi dan non-afiliasi.
“Langkah ini diharapkan meningkatkan transparansi dan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global,” jelas Phintraco Sekuritas.
Dari eksternal, pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi global. Di Eropa, inflasi Januari 2026 diperkirakan melambat menjadi 1,8% secara tahunan (YoY) dari 1,9% YoY pada Desember 2025. Sementara dari Amerika Serikat, ISM Service PMI Januari 2026 diproyeksikan relatif stabil di level 54,3, sedikit turun dari 54,4 pada bulan sebelumnya.
Rekomendasi Saham
Dalam kondisi pasar yang mulai stabil, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham layak dikoleksi, yakni:
PT Astra International Tbk (ASII)
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Saham-saham tersebut dinilai memiliki fundamental yang solid serta berpotensi diuntungkan dari pemulihan sentimen pasar dalam jangka menengah.

