Yogyakarta (tutur.co.id)- Di tengah hiruk-pikuk persiapan warga Yogyakarta menyambut bulan suci Ramadan, ada sebuah pemandangan syahdu yang rutin berlangsung di balik gerbang putih Keraton Yogyakarta. Sejumlah Abdi Dalem berpakaian peranakan lengkap, membawa kotak kayu dan rangkaian bunga keluar dari Bangsal Sri Manganti. Mereka adalah Utusan Dalem yang mengemban tugas suci dalam ritual Kuthomoro.
Dari siaran langsung akun Instagram Keraton Yogyakarta, prosesi Kintunan Dalem Kuthomoro Dal 1959 diselenggarakan hari ini, Senin (2/2/2026).
Bagi masyarakat Jawa, Nyadran mungkin identik dengan bersih-bersih makam keluarga. Namun, di level kerajaan, Kuthomoro adalah protokol spiritual yang jauh lebih mendalam. Berikut adalah 5 makna unik di balik ritual Kuthomoro:
Representasi Kehadiran Sultan
Mengutip data dari situs resmi Kratonjogja.id, para Abdi Dalem yang diberangkatkan merupakan representasi langsung dari Sri Sultan. Kehadiran mereka di makam-makam leluhur secara simbolis dianggap sebagai kehadiran “Ngarsa Dalem” sendiri untuk melaksanakan ibadah ziarah dan penghormatan.
“Peti Entek” dan Simbol Keharuman Doa
Salah satu ikon dalam prosesi ini adalah kotak kayu yang disebut Peti Entek. Di dalamnya tersimpan Ubarampe (perlengkapan) berupa:
- Sekar (Bunga): Mawar, melati, dan kenanga yang melambangkan keharusan manusia untuk selalu menebar kebaikan.
- Minyak Wangi: Simbol doa-doa yang dipanjatkan agar senantiasa harum di hadapan Tuhan.
- Lamin: Kain penutup nampan bunga sebagai simbol kesopanan dan kesakralan.
Menghubungkan Simpul Sejarah Mataram
Ritual ini dilakukan di beberapa tempat. Para Utusan Dalem berpencar menuju makam-makam kunci yang menjadi fondasi Kerajaan Mataram Islam. Berdasarkan catatan sejarah Keraton, rute utama yang akan dijalankan meliputi:
- Pajimatan Imogiri: Tempat makam para sultan.
- Makam Kotagede: Tempat peristirahatan pendiri Mataram.
- Makam Nurul Huda: Serta berbagai makam leluhur lainnya di wilayah Jawa Tengah dan DIY.
Manifestasi “Sangkan Paraning Dumadi”
Kuthomoro dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya’ban). Dalam filosofi Jawa, ini adalah momen untuk merenungkan Sangkan Paraning Dumadi—asal-usul dan tujuan akhir hidup. Dengan berziarah, Keraton memberikan teladan tentang pentingnya menghormati akar budaya sebelum memasuki bulan puasa yang suci.
Doa untuk Ketenteraman Rakyat
Meskipun ritual ini dilakukan oleh pihak internal Keraton Yogyakarta, namun tujuannya bersifat universal. Doa-doa yang dipanjatkan melalui Kuthomoro mencakup permohonan agar seluruh wilayah Yogyakarta dijauhkan dari marabahaya dan rakyatnya senantiasa diberikan kesejahteraan.

