Teheran (Tutur.co.id) – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei tampaknya mulai hilang kesabarannya menyusul semakin panjangnya daftar petinggii Iran yang tewas oleh serangan Israel dan Amerika Serikat. Terlebih dengan tewasnya Sekertaris Dewan Keamanan Nasional Ali Larijani yang juga dikenal sebagai orang kesayangan ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam sebuah pernyataan resminya, Mojtaba Khamenei berjanji akan membalaskan dendam kematian Ali Larijani yang tewas bersama keluarga dan koleganya dalam serangan udara Israel pada Selasa 17 Maret 2026.
Sosok Ali Larijani memang menjadi idola dan panutan bagi Mojtaba dan rakyat Iran. Mojtaba menggambarkan Larijani sebagai seorang pria yang berpengetahuan luas, berwawasan jauh ke depan, dan bijaksana.
Ditambah dengan fakta bahwa Ali Larijani telah mengabdi untuk Iran selama hamper lima dekade baik saat ditugaskan di bidang politik, militer, keamanan, budaya, dan administrasi.
“Setiap tetes darah yang jatuh akan dibalas dengan setimpal dan para pembunuh criminal dari martir ini akan segera menerima balasannya,” sumpah Mojtaba dilansir dari trtworld, Kamis 19 Maret 2026.
Otoritas Iran mengatakan Larijani tewas pada Selasa pagi dalam serangan gabungan AS-Israel yang juga menewaskan putranya, Morteza, ajudannya Alireza Bayat, beberapa anggota staf dewan, dan para pengawal.
Larijani termasuk di antara pejabat berpangkat tinggi yang tewas sejak pecahnya perang AS-Israel terhadap Iran bulan lalu.
Sebelumnya, Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, memperingatkan pada hari Rabu bahwa tanggapan Teheran terhadap kematian Larijani akan “tegas dan disesalkan.”
Pada hari Rabu, Garda Revolusi juga mengatakan mereka telah meluncurkan serangan rudal ke Israel tengah “sebagai pembalasan atas darah martir Dr. Ali Larijani dan para sahabatnya.”
AS dan Israel telah melanjutkan serangan gabungan terhadap Iran sejak 28 Februari, menewaskan sekitar 1.300 orang hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

