Teheran (tutur.co.id) – Gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan beberapa waktu lalu membuat situasi di Selat Hormuz dipastikan bakal memanas. Gencatan senjata yang rencananya baru akan berakhir 22 April mendatang terancam hangus. AS dan Iran sama-sama ngotot untuk mengendalikan jalur perdagangan paling vital tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah menginstruksikan armada Angkatan Lautnya untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan di pesisir Iran menyusul kegagalan perundingan di Pakistan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi serangan teror yang dilakukan Iran di Selat Hormuz.
Trump tampak cukup pede kekuatan maritim Teheran telah melemah dengan banyaknya kapal-kapal perang mereka yang telah ditenggelamkan. Ditambah dengan rencana blokade yang akan mereka lakukan mulai hari ini. Namun benarkah AS di atas angin?
Trump tampaknya harus mendengar laporan terbaru dari The Wall Street Journal. Militer AS memang telah memberikan pukulan telak kepada Angkatan Laut Konvensional Iran. Namun menurut Farzin Nadimi, seorang peneliti senior di Washington Institute dalam Journal tersebut, kekuatan Teheran bukan pada kapal-kapal perang besar milik Angkatan Laut Iran.
Farzin Nadimin mengatakan bahwa ancaman maritim paling menakutkan Iran justru datang dari kapal-kapal mungil milik pasukan paramiliter besutan IRGC. Kapal-kapal kecil ini yang punya kemampuan melakukan serangan cepat lalu menghilang.
Masih menurut Farzin, kapal-kapal ini memang dirancang untuk serangan rudal, peletakan ranjau, dan gangguan terhadap pelayaran komersial dengan cepat sehingga lebih sulit untuk dieliminasi. Menurutnya, saat ini masih tersisa 60% armada kapal serang cepat dan kapal cepat di bawah bendera IRGC yang masih beroperasi.
Ya, meskipun serangan hebat AS telah menenggelamkan lebih dari 155 kapal Iran yang sebagian besar terkonsentrasi pada kapal perang berukuran besar namun sejatinya kapal-kapal itu hanya berfungsi simbolis atau untuk justru untuk perang jarak jauh saja.
Sementara itu, armada IRGC yang lebih kecil tetap tersebar, bergerak, dan lebih sulit untuk dijadikan sasaran. Terlebih dengan strategi asimetris Iran yang tentu akan semakin sulit membuat armada laut AS mengamankan Selat Hormuz.
Jurnal tersebut juga melaporkan bahwa Teheran telah sukses menyerang lebih dari dua lusin kapal komersial yang melintas Selat Hormuz. Kapal-kapal yang melintas diwajibkan meminta izin kepada IRGC jika ingin selamat.
Iran juga telah memperingatkan kemungkinan adanya ranjau anti-kapal di jalur pelayaran utama dan mengarahkan kapal-kapal untuk mengikuti rute alternatif yang lebih dekat ke garis pantainya, sebuah langkah yang dilihat sebagai tanda bahwa mereka mungkin telah memasang ranjau di beberapa bagian jalur air tersebut.
Meskipun Angkatan Laut AS telah mulai menantang kendali Iran termasuk mengirimkan kapal perusak rudal berpemandu melalui selat tersebut, para ahli mengatakan ancaman dari kapal-kapal yang lebih kecil tetap signifikan. Kapal-kapal ini dapat beroperasi dari pangkalan pantai tersembunyi dan fasilitas bawah tanah, sehingga sulit untuk dilacak dan dihancurkan.
Jurnal tersebut mencatat bahwa Iran juga telah memperluas taktiknya, mengerahkan drone air dalam serangan terhadap kapal-kapal komersial, yang tentu akan semakin mempersulit upaya untuk mengamankan jalur perdagangan laut paling vital tersebut.

