Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Finance»Rupiah Masih Tertekan, MSCI dan Ketegangan Global Bayangi Kurs ke Rp17.500 per Dolar AS

Rupiah Masih Tertekan, MSCI dan Ketegangan Global Bayangi Kurs ke Rp17.500 per Dolar AS

Finance Gusti Tetiro13 Mei 2026 / 08:28 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Ilustrasi - Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/am.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) —  Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (13/5/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah hingga menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan nasional.

Mengutip data RTI Infokom, rupiah pada Selasa (12/5/2026) ditutup melemah 0,66% atau 115 poin ke level Rp17.529 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,31% ke posisi 98,25.

Research and Development ICDX, Tiffani Safinia mengatakan pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Dari sisi global, dolar AS masih menguat seiring ekspektasi suku bunga tinggi The Fed bertahan lebih lama.

Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah turut mendorong permintaan aset safe haven serta kenaikan harga minyak dunia yang memperbesar tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

“Pasar juga masih menunggu arah inflasi AS yang akan menentukan ekspektasi kebijakan moneter The Fed ke depan,” ujar Tiffani dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Dari sisi domestik, sentimen pasar juga dipengaruhi aliran modal asing dan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Isu evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi dan struktur pasar modal Indonesia disebut meningkatkan kehati-hatian investor global terhadap aset domestik.

Selain itu, pasar mencermati kekhawatiran terhadap kapasitas fiskal pemerintah, meningkatnya kebutuhan subsidi ketika rupiah melemah, serta lonjakan permintaan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri korporasi pada periode April–Mei 2026.

Menurut Tiffani, kombinasi faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah lebih besar dibandingkan mata uang regional lainnya.

Ia mengingatkan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan imported inflation karena biaya impor bahan baku, energi, dan barang konsumsi menjadi lebih mahal. Kondisi ini dapat mendorong kenaikan harga domestik secara bertahap.

Baca Juga  OJK, BEI, dan KSEI Percepat Reformasi Pasar Modal Demi Tarik Investor Global

Tekanan juga dapat muncul terhadap APBN karena beban subsidi energi dan pembayaran utang valas meningkat saat kurs rupiah melemah. Sementara bagi korporasi yang memiliki kewajiban dolar AS namun pendapatan berbasis rupiah, depresiasi rupiah dapat menekan cash flow dan biaya operasional.

Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai masih memberikan dampak positif terbatas bagi sektor berorientasi ekspor karena meningkatkan daya saing harga produk Indonesia di pasar global.

“Bank Indonesia masih memiliki ruang stabilisasi melalui intervensi pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta penguatan kebijakan pengendalian permintaan dolar AS domestik,” jelasnya.

Tiffani menilai volatilitas rupiah masih akan tinggi dalam jangka pendek selama ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga AS belum berubah signifikan.

Sementara itu, Trading Economics memperkirakan rupiah akan berada di level Rp17.388 per dolar AS pada akhir kuartal II-2026, namun berpotensi melemah lebih dalam hingga akhir tahun.

Di sisi lain, Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memperingatkan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut menjelang pengumuman hasil rebalancing indeks MSCI.

Peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan hasil rebalancing MSCI dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk nilai tukar rupiah.

“Kalau hasil rebalancing MSCI buruk, tentu bisa menambah tekanan ke pasar keuangan dan rupiah. Tapi penting dibedakan mana yang masih mengejutkan pasar dan mana yang sebenarnya sudah lama diantisipasi,” ujar Yusuf.

Menurutnya, saham-saham yang berisiko keluar dari indeks MSCI seperti BREN dan DSSA sebenarnya sudah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Arus keluar modal asing juga telah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir sehingga sebagian sentimen negatif telah diantisipasi pasar.

Namun, Yusuf mengingatkan risiko lebih besar dapat muncul apabila terdapat kejutan negatif dalam hasil rebalancing tersebut, seperti penurunan bobot Indonesia yang lebih dalam atau bertambahnya saham yang terdampak evaluasi MSCI.

Baca Juga  Operasi Hari Ketiga Pencarian Pendaki yang Hilang di Gunung Dukono

“Itu bisa memicu tekanan lanjutan, terutama karena passive fund dan ETF biasanya baru melakukan rebalancing mendekati tanggal efektif,” tutupnya.

bank indonesia dolar AS headline MSCI Rupiah
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleLokasi Layanan Samsat Keliling 13 Mei 2026
Next Article KPK Periksa Istri Wali Kota Madiun, Telusuri Dugaan Aset Hasil Korupsi

Berita Lainnya

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Febrie Tak Ditahan Usai Diperiksa, Hotman: 18 Pertanyaan Terjawab

17 Juli 2026 / 22:42 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Mojtaba Khamenei Puji Solidaritas Nasional Iran di Tengah Ketegangan dengan AS

Deba Salamah29 Mei 2026 / 02:00 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.