Teheran (Tutur.co.id) – Pemerintah Iran mulai mengungkap skala kerusakan akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, dengan estimasi awal mencapai 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp4,6 kuadriliun.
Angka tersebut disampaikan oleh juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, sebagaimana dilaporkan Tasnim News Agency pada Selasa. Ia menegaskan bahwa nilai tersebut masih bersifat sementara dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut melalui proses penilaian berlapis.
“Kerusakan-kerusakan itu biasanya perlu diperiksa dalam beberapa lapis,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa isu kompensasi menjadi salah satu fokus utama dalam perundingan yang tengah diupayakan Iran.
Dalam keterangannya kepada RIA Novosti, Mohajerani menyebut bahwa tuntutan ganti rugi telah menjadi bagian penting dalam agenda dialog antara Teheran dan Washington, termasuk dalam pertemuan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Konflik di kawasan Teluk sendiri meningkat tajam sejak akhir Februari, ketika serangan militer gabungan dilancarkan ke wilayah Iran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan luas pada infrastruktur.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Irak, Yordania, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika. Eskalasi tersebut sempat mereda setelah diumumkannya gencatan senjata selama dua pekan pada awal April.
Namun, upaya diplomasi belum membuahkan hasil. Delegasi Iran dan Amerika Serikat diketahui telah menjalani negosiasi intensif selama 21 jam di Islamabad pada 12 April 2026, tetapi perundingan itu berakhir tanpa kesepakatan.

