Jakarta (tutur.co.id) — Level US$ 2.000 per ons yang dulu dianggap batas psikologis tertinggi emas kini terasa seperti masa lalu yang jauh. Dalam 12 bulan terakhir hingga 26 Februari 2026, harga logam mulia ini melesat tanpa jeda, memaksa pelaku pasar terus menyesuaikan ekspektasi.
Mengacu laporan World Gold Council yang dikutip CBS News, sepanjang 2025 emas mencetak puluhan rekor baru—hampir satu rekor setiap pekan. Kenaikan ini bukan lonjakan sesaat, melainkan refleksi perubahan mendasar dalam lanskap ekonomi global.
Puncaknya terjadi pada 28 Januari 2026. Harga emas menyentuh US$ 5.589,38 per ons—rekor tertinggi sepanjang sejarah. Angka itu bukan sekadar memecahkan rekor lama, tetapi merombak definisi harga “normal” emas.
Awal 2025, emas masih berada di kisaran US$ 2.624 per ons. Pertengahan tahun, harganya sudah kokoh di atas US$ 3.500. Memasuki semester II, level US$ 4.000 ditembus. Januari 2026 menjadi klimaks ketika harga melampaui US$ 5.000 dan terus berlari hingga mendekati US$ 5.600.
Ada beberapa mesin pendorong di balik reli ini. Inflasi global yang belum sepenuhnya reda membuat emas tetap diburu sebagai lindung nilai. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve menjaga volatilitas pasar. Di saat yang sama, ketegangan geopolitik dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral memperkuat fondasi permintaan.
Dalam setahun, emas tak hanya mencetak rekor baru—ia mengubah persepsi investor tentang risiko dan perlindungan nilai. Di tengah ketidakpastian finansial global, logam mulia kembali menegaskan posisinya sebagai safe haven utama.

