Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tiga Faktor yang Bisa Membuat Tembok Baja Spanyol Ambruk
  • Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB
  • Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie
  • Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”
  • Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?
  • Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 25 Penumpang Masih Hilang, Armada Pencarian Diperkuat
  • Mampukah Messi Menaklukkan Negeri yang Membesarkan Namanya?
  • Pasca Bencana Hidrometeorologi, Pemerintah Aceh Kerja Keras Pulihkan Akses Jalan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Makro»Praktik Goreng-Menggoreng Saham: Masalah Klasik yang Terus Berulang di Pasar Modal

Praktik Goreng-Menggoreng Saham: Masalah Klasik yang Terus Berulang di Pasar Modal

Makro Adi P01 Februari 2026 / 11:45 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Ilustrasi trader sedang entry pembelian saham menggunakan platform sekuritas. (Foto:Tutur/Ilustrasi AI)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Goreng-menggoreng saham adalah istilah populer di pasar modal Indonesia untuk menggambarkan praktik manipulasi  atau rekayasa pembentukan harga saham secara tidak wajar

dan terkoordinasi oleh pihak tertentu—biasanya disebut bandar, sekelompok investor bermodal besar, atau istilah halusnya market maker—dengan tujuan menaikkan harga saham secara tidak wajar (artifisial) dalam waktu singkat, lalu melepas saham tersebut di harga tinggi kepada investor lain (umumnya ritel), sebelum harga kembali ambruk serendah-rendahnya.

Dalam terminologi pasar global, praktik ini sepadan dengan skema pump and dump, yang di banyak yurisdiksi—termasuk Indonesia—dikategorikan sebagai pelanggaran hukum pasar modal karena merusak prinsip perdagangan yang wajar, teratur, dan efisien.

Praktik goreng-menggoreng saham masih menjadi salah satu sisi gelap pasar modal yang terus berulang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tujuan utama menggoreng saham adalah mengerek harga saham secara artifisial setinggi mungkin melalui transaksi terkoordinasi, penyebaran rumor, atau pemanfaatan likuiditas tipis, sebelum akhirnya melepas saham tersebut dan meninggalkan investor ritel dengan kerugian.

Transparansi kepemilikan saham, free float (kepemilikan saham oleh publik), dan praktik goreng-menggoreng saham di lantai bursa efek Indonesia ini menjadi tiga sisi yang disorot Morgan Stanley Capital International atau MSCI, yang pada akhir Januari lalu memicu mundurnya Dirut BEI dan sejumlah pejabat pucuk di OJK.

Ilustrasi kepanikan pasar saat terjadinya trading halt hari kedua di bursa efek Indonesia 29 Januari 2026. (Foto:Tutur/Ilustrasi AI)

Seorang kawan investor ritel di Jakarta, mengaku kerap terjebak euforia grup-grup percakapan di platform yang ia ikuti. “Harga naik cepat, grup-grup ramai, tapi begitu saya masuk, sahamnya langsung berbalik turun. Kita seperti dikarungin, ” ujar sang kawan.

Fenomena  dikarungi bandar, terhempas di comberan, atau nyangkut dalam banget, adalah risiko yang banyak sekali dialami investor ritel. Ini sejatinya bukan hal baru dalam sejarah pasar saham global.

Investor legendaris Warren Buffett pernah mengingatkan bahwa pasar saham tidak selalu rasional, karena itu investor harus tetap memakai rasionalitasnya dan jangan mimpi cuan cepat. “The stock market is a device for transferring money from the impatient to the patient,” kata Buffett dalam salah satu surat tahunannya, menegaskan bahwa spekulasi jangka pendek sering kali menjadi ladang subur bagi manipulasi harga, termasuk praktik goreng saham.

Baca Juga  BEI Luncurkan IDX Hotdesk, Perkuat Transparansi dan Komunikasi Pasar Modal

Dalam terminologi pasar global, praktik ini sepadan dengan skema pump and dump, yang di banyak yurisdiksi—termasuk Indonesia—dikategorikan sebagai pelanggaran hukum pasar modal karena merusak prinsip perdagangan yang wajar, teratur, dan efisien.

Secara lebih rinci, indikasi kuat atas gorengan saham memiliki ciri-ciri utama berikut:

  1. Kenaikan harga dan volume tidak sejalan dengan fundamental, tanpa didukung kinerja keuangan, aksi korporasi signifikan, atau prospek bisnis yang jelas.

  2. Transaksi terkoordinasi, sering kali melalui akun-akun tertentu yang saling bertransaksi (crossing atau matched order) untuk menciptakan ilusi permintaan tinggi.

  3. Penyebaran rumor atau narasi menyesatkan, termasuk lewat grup media sosial, forum, atau pesan berantai untuk menarik minat investor lain.

  4. Fase akhir berupa aksi jual besar-besaran, ketika pihak penggoreng keluar dari saham, menyebabkan harga anjlok tajam dan meninggalkan kerugian bagi investor yang masuk belakangan.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) berkali-kali mengingatkan investor agar mewaspadai saham dengan lonjakan harga dan volume yang tidak sejalan dengan fundamental. Pengamat pasar modal sepertinya sepakat menyebut praktik goreng-menggoreng saham sering memanfaatkan minimnya literasi. Ketika laporan keuangan diabaikan dan keputusan hanya berdasarkan rumor, di situlah gorengan bekerja.

Investor kawakan Lo Kheng Hong juga kerap mengingatkan publik agar tidak terjebak permainan jangka pendek. “Jangan pernah beli kucing dalam karung. Jangan main saham gorengan. Belilah perusahaan yang kinerjanya bagus saat harganya murah. Baca laporan keuangan, karena membaca laporan keuangan adalah kunci keberhasilan menjadi investor.  Tidak ada cara lain. Saya tidak pernah membeli saham hanya karena harganya naik. Saya beli bisnis, bukan tiket judi,” ujarnya dalam berbagai forum edukasi pasar modal. Menurut Lo, praktik goreng saham sulit diberantas jika investor sendiri tidak disiplin dan tergoda keuntungan instan.

Di Wall Street, praktik goreng-menggoreng saham juga terjadi, dikenal dengan istilah pump and dump.

Saat kepemimpinan Ketua Mary Jo White 2013 hingga 2017, Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat menemukan teknik-teknik manipulasi pasar modern yang sering digunakan untuk “menggoreng” saham secara artifisial. Berikut adalah beberapa teknik spesifik yang menjadi target utamanya: 

Baca Juga  IHSG Terancam Jebol ke 6.678, BRIDS Soroti Tekanan Rupiah dan MSCI

Spoofing & Layering: Teknik menempatkan pesanan besar (order beli atau jual) tanpa niat untuk mengeksekusinya. Tujuannya adalah menciptakan kesan palsu adanya permintaan atau penawaran yang masif agar harga bergerak ke arah yang diinginkan manipulator sebelum pesanan tersebut dibatalkan.

Microcap & Penny Stock Fraud: Manipulasi pada saham-saham berkapitalisasi kecil (sering disebut saham “gocap” atau “lapis tiga” di Indonesia). White menekankan penggunaan Section 20(b) untuk menjerat individu yang bersembunyi di balik skema ini meskipun mereka tidak berkomunikasi langsung dengan investor yang dirugikan.

Operation Shell-Expel: Tindakan keras terhadap perusahaan “cangkang” (shell companies) yang tidak memiliki operasi bisnis nyata namun tetap terdaftar di bursa. Perusahaan-perusahaan ini sering menjadi kendaraan utama untuk skema Pump-and-Dump.

Mass Misinformation: Penyebaran rumor atau informasi palsu secara cepat melalui media sosial dan jaringan elektronik untuk memicu kepanikan atau antusiasme beli yang tidak berdasar.

Pinging: Penggunaan algoritma frekuensi tinggi untuk mengirimkan pesanan kecil guna “memancing” reaksi dari pelaku pasar lain dan mendeteksi pesanan besar yang tersembunyi, yang kemudian dimanfaatkan oleh manipulator. 

Mary Jo White menerapkan strategi “Broken Windows”, di mana pelanggaran sekecil apa pun—termasuk kesalahan pelaporan administratif oleh orang dalam perusahaan—akan ditindak tegas agar tidak berkembang menjadi skema manipulasi yang lebih besar.

Kini pemerintah Indonesia tengah memulai membersihkan praktik goreng-menggoreng saham di pasar saham Indonesia. Semua kini terpulang kepada Anda, karena pada akhirnya, praktik goreng-menggoreng saham bukan sekadar persoalan pengawasan regulator, tetapi juga kedewasaan pelaku pasar. Selama masih ada investor yang mengejar keuntungan cepat tanpa memahami risiko, ruang bagi para penggoreng saham akan tetap terbuka. Menjadi investor di pasar modal bukanlah soal cepat kaya, tapi soal berapa lama bisa bertahan dan mendapatkan keuntungan jangka panjang.
BEI IHSG OJK Saham Saham Gorengan tutur
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleRencana Santai untuk Hari Minggu di Awal Februari
Next Article Video: Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Kuartal IV 2025 Lebih Tinggi, Inflasi Dipastikan Tetap Terkendali

Berita Lainnya

Menkeu Purbaya: Rupiah Melemah karena Faktor Global, Penguatan UMKM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi

17 Juli 2026 / 09:55 WIB

IHSG Diproyeksikan Lanjut Menguat, Phintraco Rekomendasikan BBCA, ICBP, EXCL, TKIM, dan SMGR

17 Juli 2026 / 08:21 WIB

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat ke 6.130, ANTM, ARTO, dan ARCI Jadi Rekomendasi BRI Danareksa

17 Juli 2026 / 07:58 WIB

Mirae Asset: Peringkat BBB S&P Jadi Sentimen Positif, Namun Risiko Ekonomi Masih Membayangi

17 Juli 2026 / 05:24 WIB

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, MNC Sekuritas Rekomendasikan INCO, INDY, ISAT, dan OASA

17 Juli 2026 / 04:27 WIB

Hong Kong Geser Singapura sebagai Investor Terbesar Indonesia pada Kuartal II-2026, Pertama dalam Satu Dekade

16 Juli 2026 / 16:50 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Kloter Terakhir Haji 2026 Tiba, Bandara Adi Soemarmo Catat OTP 80 Persen

Galuh Parantri01 Juli 2026 / 15:51 WIB

Tiga Faktor yang Bisa Membuat Tembok Baja Spanyol Ambruk

19 Juli 2026 / 02:00 WIB

Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB

18 Juli 2026 / 19:50 WIB

Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie

18 Juli 2026 / 19:37 WIB

Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”

18 Juli 2026 / 19:30 WIB

Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?

18 Juli 2026 / 19:25 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.