Jakarta (tutur.co.id) — BRI Danareksa Sekuritas menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan kuat dan berpotensi melanjutkan pelemahan setelah menembus area support penting pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Dalam risetnya, BRIDS menyebut secara teknikal IHSG berpotensi breakdown dari area support 6.875–6.965 dan ditutup melemah di level 6.833.
“Struktur indeks masih membentuk lower high dan lower low dengan MACD yang bergerak negatif, menandakan tekanan jual masih dominan,” tulis BRIDS dalam catatannya, Selasa siang.
Setelah breakdown support, IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support berikutnya di kisaran 6.745–6.678.
Sementara itu, area 6.900–6.965 kini berubah menjadi resistance terdekat yang akan menjadi penghalang penguatan indeks dalam jangka pendek.
BRIDS menilai pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen negatif domestik dan global yang menekan pasar keuangan Indonesia.
Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah kembali melemah 0,53% ke level Rp17.505 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan kurs tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya arus modal keluar atau capital outflow dari pasar domestik.
Selain itu, investor juga mencermati potensi dampak dari pengumuman rebalancing indeks MSCI terhadap pasar saham Indonesia.
“Pasar turut mencermati pengumuman MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global yang berpotensi menambah tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah dan IHSG,” tulis BRIDS.
Dari eksternal, tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat turut memperburuk sentimen pasar global.
Kondisi tersebut membuat harga minyak mentah dunia tetap bertahan tinggi dan memicu risk off sentiment di pasar keuangan, sehingga investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Tekanan terhadap IHSG juga terjadi di tengah aksi jual investor asing yang masih berlangsung dalam beberapa hari terakhir, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.

