Jakarta (tutur.co.id) — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat untuk kembali disiplin mengelola keuangan keluarga setelah momen Lebaran 2026, seiring meningkatnya tekanan pengeluaran rumah tangga selama periode tersebut. Langkah ini dinilai krusial agar kondisi finansial tetap sehat dan stabil di tengah fase pemulihan pasca hari raya.
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menegaskan bahwa Idulfitri seharusnya menjadi titik awal untuk memperbaiki pola pengelolaan keuangan. “Mari jadikan momen setelah Lebaran ini sebagai awal untuk lebih disiplin, lebih terencana, dan lebih bijak dalam setiap keputusan keuangan,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan literasi keuangan menjadi kunci agar masyarakat mampu mengelola pengeluaran secara bertanggung jawab. Melalui berbagai program edukasi, termasuk kampanye Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah), Otoritas Jasa Keuangan terus mendorong pemanfaatan layanan keuangan yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Lonjakan pengeluaran selama Ramadan dan Lebaran memang sulit dihindari. Survei Amar Bank terhadap 1.600 responden di kota besar menunjukkan 87% masyarakat mengalami kenaikan pengeluaran, dengan kebutuhan rumah tangga menjadi pos terbesar. Kondisi ini memicu tekanan finansial yang berbeda antara generasi muda.
Kelompok Gen Z cenderung mengambil pendekatan defensif dengan mengandalkan dana darurat untuk menutup kebutuhan mendesak. Namun, sekitar 42% dari responden Gen Z mengaku kondisi keuangan mereka semakin tertekan menjelang akhir Ramadan, menandakan keterbatasan daya tahan finansial.
Sebaliknya, kelompok Milenial dinilai lebih adaptif dalam menjaga arus kas. Mereka cenderung mengombinasikan dana darurat dengan pinjaman sebagai strategi menjaga likuiditas. Meski menghadapi fluktuasi keuangan, pendekatan ini dinilai lebih fleksibel dalam mengantisipasi kebutuhan jangka pendek.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa pinjaman mulai dipandang sebagai alat stabilitas keuangan, bukan sekadar pemicu konsumsi. Sebagian besar responden memanfaatkan pinjaman untuk menjembatani kebutuhan sambil menunggu pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) atau menutup kekurangan biaya rutin.
Di sisi lain, THR kini berperan sebagai penyangga psikologis dalam pengambilan keputusan keuangan. Mayoritas masyarakat mengalokasikan dana tersebut untuk kebutuhan keluarga dan ibadah, bukan semata konsumsi.
Meski demikian, tantangan finansial tidak berhenti setelah Lebaran. Sekitar 37,7% responden mengaku harus mengencangkan pengeluaran lebih lama karena proses pemulihan keuangan yang tidak instan. Hal ini mempertegas pentingnya perencanaan keuangan yang matang agar keseimbangan finansial dapat segera kembali terjaga.

