Jakarta (tutur.co.id) — Permintaan emas global dari bank sentral diperkirakan tetap kuat sepanjang 2026, meski harga logam mulia tersebut sempat menyentuh rekor tertinggi pada awal tahun. World Gold Council (WGC) mencatat, tren akumulasi emas oleh otoritas moneter masih berlanjut dan menjadi penopang utama pasar.
WGC memperkirakan bank-bank sentral akan membeli sekitar 850 ton emas sepanjang 2026, angka yang relatif sejalan dengan capaian tahun sebelumnya. Kuatnya permintaan ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi instrumen penting dalam strategi diversifikasi cadangan devisa, terutama di tengah ketidakpastian global.
Kepala Global Central Banks WGC, Shaokai Fan, mengungkapkan bahwa dinamika pasar saat ini diwarnai oleh kehadiran pemain baru. “Fenomena yang telah kita lihat dalam beberapa bulan terakhir adalah bank sentral baru, atau bank sentral yang telah lama tidak aktif, memasuki pasar emas,” ujarnya seperti dikutip Mining.
Ia menambahkan, tren tersebut berpotensi berlanjut hingga akhir tahun.
Momentum ini melanjutkan pola pembelian agresif pada 2025, ketika bank sentral kembali menjadi salah satu sumber permintaan terbesar di pasar emas global. Secara kumulatif, pembelian emas sektor resmi telah mencapai sekitar 863 ton dalam periode terbaru, meskipun masih sedikit di bawah rekor tertinggi pada 2022–2023.
Di tengah tren tersebut, dinamika geopolitik turut memengaruhi pergerakan pasar. Konflik di Timur Tengah mendorong sebagian negara untuk melepas sebagian cadangan emas guna memperkuat posisi devisa, terutama saat harga energi melonjak. Meski demikian, fundamental kepemilikan emas sebagai aset lindung nilai dinilai tetap solid.
Di sisi lain, volatilitas harga emas juga mulai terlihat dalam jangka pendek. Analis data utama di BestBrokers, Alan Goldberg, menyoroti perubahan sentimen investor. “Penurunan tajam harga emas baru-baru ini menandai perubahan dramatis dalam sentimen investor,” katanya, mengindikasikan logam mulia tersebut sempat mendekati fase bearish dalam sepekan terakhir.
Kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara permintaan jangka panjang dari bank sentral dan tekanan jangka pendek akibat dinamika pasar serta sentimen investor. Ke depan, arah harga emas diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, pergerakan suku bunga global, serta strategi diversifikasi cadangan oleh bank sentral.

