Jakarta (tutur.co.id) – Polemik soal menu susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ramai dibahas publik menyusul beredarnya surat terbuka dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Banyak pihak mempertanyakan apakah pemberian susu formula pada bayi dan anak memang benar-benar diperlukan, terutama bagi bayi yang masih berada di masa menyusui.
Di tengah perdebatan, sejumlah tenaga kesehatan justru mengingatkan bahwa penggunaan susu formula tidak bisa dianggap sepele karena ada risiko jangka panjang yang perlu diperhatikan. Dokter dan pemerhati gizi masyarakat, Tan Shot Yen, menilai pemberian susu formula sebagai “suplementasi” ASI bisa membawa banyak konsekuensi jika dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Menurutnya, salah satu risiko terbesar adalah bayi berhenti menyusu lebih cepat karena produksi ASI bisa terganggu. Peringatan serupa juga disampaikan oleh Raising Children Network, platform edukasi parenting dan kesehatan anak asal Australia. Dalam panduan mereka mengenai mixed feeding atau pemberian ASI yang dicampur dengan susu formula, disebutkan bahwa pemberian susu formula secara rutin bisa memengaruhi keberlangsungan ASI ibu.
“Regular mixed feeding might make it more difficult to keep breastfeeding because it can interfere with keeping up a good supply of breastmilk,” tulis Raising Children Network dalam panduan tersebut.
Maksudnya, ketika bayi mulai lebih sering mengonsumsi susu formula, frekuensi menyusu langsung ke ibu bisa berkurang dan produksi ASI ikut menurun. Hal ini yang kemudian dikaitkan dengan polemik menu susu formula dalam program MBG, karena banyak tenaga kesehatan khawatir suplementasi susu formula justru membuat proses menyusui eksklusif terganggu.
Selain itu, kapasitas lambung bayi usia 6-12 bulan yang masih sangat kecil juga menjadi perhatian. Dr.tan menjelaskan bayi yang menerima ASI, susu formula, dan MPASI sekaligus berisiko mengalami penurunan minat menyusu alami. Kondisi ini dikhawatirkan membuat manfaat ASI semakin berkurang, padahal ASI masih menjadi sumber nutrisi utama bagi bayi pada usia awal kehidupannya.
Dr.Tan juga menyoroti dampak susu formula terhadap sistem pencernaan bayi. Menurutnya, suus formula dapat memengaruhi keseimbangan probiotik alami dalam tubuh anak. Ia juga mengingatkan adanya risiko intoleransi laktosa, diare, hingga penolakan MPASI karena bayi menjadi lebih nyaman menggunakan dot dibanding belajar makan secara alami.
”Dot dan botol juga bisa menjadi sumber infeksi jika sterilisasi tidak dipahami dengan benar,” jelas dr. Tan.
Selain itu, penggunaan botol susu dalam jangka panjang disebut dapat meningkatkan risiko karies gigi dan jamur mulut pada bayi. Risiko lain yang jarang dibahas adalah berkurangnya bonding antara ibu dan anak karena proses menyusui langsung menjadi lebih sedikit.
Di tengah polemik ini, poster kampanye dari WHO kembali ramai dibagikan di media sosial. Poster tersebut bertuliskan, “Masa depan bayi Anda seharusnya lebih penting daripada bisnis apa pun.” WHO juga menyoroti bagaimana industri susu formula terus melakukan pemasaran agresif kepada orang tua dengan narasi bahwa produk mereka dapat menjadi solusi utama tumbuh kembang anak.
Perdebatan soal susu formula dalam program MBG akhirnya bukan cuma soal menu makanan tambahan, tapi juga soal edukasi kesehatan masyarakat. Banyak ahli menilai susu formula memang bisa dibutuhkan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak dapat menggantikan manfaat ASI secara menyeluruh. Karena itu, isu ini diperkirakan masih akan terus menjadi perhatian publik dalam waktu dekat.

