Jakarta (tutur.co.id) – Tekanan jual masif kembali menghantam pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles tajam pada perdagangan Kamis (29/1/2026), dipicu sentimen negatif terkait posisi pasar modal Indonesia di mata global, khususnya menyangkut keputusan MSCI.
IHSG bahkan sempat kembali dikenai pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada Kamis pagi sekitar pukul 09.24 WIB, setelah indeks terperosok hingga 8% dalam waktu singkat. Aksi jual agresif mencerminkan kepanikan investor menyusul kabar pembekuan bobot (weight) Indonesia dalam indeks MSCI serta meningkatnya risiko penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Kekhawatiran akan terjadinya arus keluar modal asing (capital outflow) dalam skala besar mendorong pelaku pasar untuk melepas saham-saham berisiko, terutama emiten berkapitalisasi besar (big cap) yang menjadi konstituen utama IHSG.
Ancaman “Turun Kasta” Tekan Likuiditas Pasar
Isu potensi penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market dinilai sebagai sentimen negatif serius bagi keberlanjutan likuiditas pasar saham nasional. Jika skenario ini terealisasi pada Mei 2026, sejumlah manajer investasi global, khususnya pengelola dana pasif berbasis Emerging Market Exchange Traded Fund (ETF), diperkirakan akan melakukan rebalancing portofolio dengan mengurangi atau bahkan melepas kepemilikan saham Indonesia.
Langkah tersebut berpotensi memperdalam tekanan jual dan mempersempit likuiditas, mengingat dana kelolaan berbasis indeks Emerging Market memiliki porsi yang signifikan terhadap arus modal di pasar domestik.
Saham Big Cap Berguguran, ARB Beruntun
Kepanikan pasar tercermin jelas pada pergerakan saham-saham unggulan. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) langsung menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) dengan koreksi 15,00% ke level Rp1.955 per saham.
Tekanan serupa dialami PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang anjlok 14,98%, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang melemah 14,97%. Ketiga saham tersebut tercatat masih dibanjiri antrean jual (offer) tebal, menandakan tekanan belum sepenuhnya mereda.
Anjloknya saham-saham berkapitalisasi besar ini mengindikasikan bahwa investor institusi mulai bersikap defensif, dengan menurunkan eksposur pada aset-aset berisiko tinggi di tengah ketidakpastian regulasi dan persepsi global terhadap pasar Indonesia.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati respons otoritas pasar modal serta komunikasi lanjutan dari MSCI untuk meredam volatilitas dan memulihkan kepercayaan investor, terutama investor asing yang berperan besar dalam menjaga stabilitas IHSG.

