Jakarta (tutur.co.id) — Pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 tampaknya belum mampu memulihkan kepercayaan pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia.
Meski Prabowo berulang kali menekankan semangat nasionalisme ekonomi dan optimisme terhadap potensi Indonesia, pasar saham justru masih bergerak di zona merah. Ketidaksinkronan antara optimisme pemerintah dan respons pasar mencerminkan tingginya kehati-hatian investor terhadap kondisi ekonomi dan tekanan eksternal yang masih berlangsung.
Pada perdagangan sesi I, Rabu (20/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 38,5 poin atau 0,60 persen ke level 6.332,18. IHSG bergerak dalam rentang 6.215 hingga 6.459 dengan nilai transaksi mencapai Rp13,17 triliun.
Tekanan terhadap indeks dipicu pelemahan saham-saham big cap seperti Chandra Asri Pacific (TPIA), Amman Mineral Internasional (AMMN), Barito Renewables Energy (BREN), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), serta United Tractors (UNTR).
Pelemahan juga melanda sejumlah saham lain seperti RLCO, DCII, dan TKIM. Adapun sektor yang mengalami tekanan terbesar meliputi material dasar, energi, transportasi, industri, infrastruktur, hingga consumer primer.
Di tengah tekanan indeks, beberapa saham masih mencatatkan penguatan signifikan. Saham ITND melonjak 20 persen menjadi Rp276, ZONE naik 17,65 persen menjadi Rp400, APIC menguat 15,89 persen menjadi Rp1.495, sementara MORA dan INDR masing-masing naik lebih dari 15 persen.
Sehari sebelumnya, IHSG bahkan sempat anjlok 228,56 poin atau 3,46 persen ke level 6.370. Meski demikian, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp260,12 miliar, terutama pada saham Merdeka Copper Gold (MDKA), Alamtri Resources Indonesia (ADRO), dan MBMA.
Pelaku pasar menilai tekanan terhadap IHSG dipicu kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, kekhawatiran muncul atas rencana pembentukan Badan Ekspor bagi eksportir sektor sumber daya alam (SDA), yang dinilai berpotensi menambah ketidakpastian kebijakan.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.706 per dolar Amerika Serikat turut memperbesar tekanan di pasar keuangan domestik.
Dalam pidatonya di Sidang Paripurna DPR RI, Prabowo menegaskan pemerintah tetap menargetkan Indonesia menjadi negara yang berdaulat secara ekonomi.
Ia menyampaikan target pendapatan negara dalam RAPBN 2027 berada pada kisaran 11,82 hingga 12,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara belanja negara direncanakan sebesar 13,62 hingga 14,80 persen dari PDB dengan defisit dijaga pada rentang 1,80 hingga 2,40 persen.
Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 5,8 hingga 6,5 persen dengan inflasi dijaga pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
Selain itu, suku bunga SBN tenor 10 tahun diproyeksikan berada pada kisaran 6,5 hingga 7,3 persen, sedangkan nilai tukar rupiah ditargetkan menguat pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
“Strategi fiskal dan moneter kita harus mampu menjaga nilai tukar tetap stabil terhadap mata uang dunia,” ujar Prabowo.
Pemerintah juga memperkirakan harga minyak mentah Indonesia berada pada kisaran US$70 hingga US$90 per barel. Adapun lifting minyak ditargetkan mencapai 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari, sementara lifting gas bumi diproyeksikan sebesar 934 ribu hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.

