New Delhi (Tutur.co.id) – Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pandangannya di Bloomberg New Economy 2026 yang digelar di New Delhi, India. Dalam forum itu, Jokowi selaku penasihat global Bloomberg berbicara mengenai AI sovereignty.
“Kita sendiri, baik itu modelnya maupun infrastrukturnya, membutuhkan Waktu bertahun-tahun dengan investasi besar serta sumber daya yang sangat canggih dan maju. Namun kita juga berfokus pada aplikasi AI, kita bisa bergerak cepat apalagi teknologi AI terus berubah,” kata Jokowi dari sumber Tutur.
Jokowi juga menekankan, AI sovereignty atau kedaulatan kecerdasan buatan tidak realistis bagi banyak negara karena juga tetap bergantung pada rantai pasokan cip global.
“Sejujurnya, bagi banyak negara, kedaulatan AI yang murni itu tidak realistis, benar-benar tidak realistis. Karena kita tahu bahwa negara-negara seperti Amerika Serikat pun masih bergantung pada rantai pasok cip global dan talenta internasional,” katanya.
Dalam acara tersebut juga dihadiri tokoh-tokoh penting dunia seperti Presiden dan CEO US-India Strategic Partnership Mukesh Aghi, Anchor Bloomberg Haslinda Amin, COO Zoom Aparna Bawa, CEO dan Founder Zscaler Jay Chaudhry, serta Chief Technology Officer Ericsson Erik Ekudden.
Selain itu hadir pula Editorial Director Bloomberg New Economy Erik Schatzker dan Global Head of Forums for Bloomberg Live David Hearn.
Dari kalangan korporasi dan industri global, tercatat CEO dan President FedEx Rajesh Subramaniam, Managing Director dan CEO Infosys Salil Parekh, Chairman PwC India Sanjeev Krishan, hingga President dan CEO Information Technology Industry Council Jason Oxman.
Yang tak kalah menarik, forum ini juga dihadiri oleh mantan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak serta Menteri Perkeretaapian, Informasi dan Penyiaran, serta Elektronika dan Teknologi Informasi India Ashwini Vaishnaw.

