Washington (Tutur.co.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer lanjutan terhadap sejumlah infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan penting di negara tersebut.
Laporan yang disampaikan Fox News pada Rabu (10/6) menyebutkan bahwa Trump mulai mempertimbangkan langkah tersebut karena menilai Iran sengaja memperlambat proses negosiasi yang sedang berlangsung dengan Washington.
Menurut sumber yang dikutip media tersebut, Gedung Putih semakin frustrasi terhadap minimnya kemajuan dalam perundingan yang bertujuan meredakan ketegangan antara kedua negara.
Sebelumnya, Trump menyampaikan kritik keras terhadap Teheran melalui platform Truth Social. Ia menuduh Iran sengaja menunda pembicaraan dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut akan membawa konsekuensi.
“Iran telah menunda pembicaraan dan mereka harus membayar harganya,” tulis Trump.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa Washington tengah menyiapkan opsi tekanan tambahan, termasuk kemungkinan operasi militer terhadap fasilitas vital Iran.
Di tengah ketegangan yang masih berlangsung, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan AS telah menyelesaikan operasi militer terhadap sejumlah target di Iran.
Menurut CENTCOM, serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas insiden yang melibatkan sebuah helikopter tempur Apache milik Amerika Serikat.
Operasi itu menargetkan sejumlah fasilitas pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, serta instalasi radar pengawasan yang berada di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Tak lama setelah operasi tersebut berlangsung, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar sejumlah fasilitas dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Aksi saling serang ini kembali meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya konflik antara Washington dan Teheran.
Ketegangan kedua negara sebenarnya telah meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran, termasuk kawasan ibu kota Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas serta menimbulkan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Meski Amerika Serikat dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April, situasi di lapangan masih jauh dari stabil.
Upaya diplomasi yang dimediasi Pakistan di Islamabad juga belum menghasilkan terobosan berarti. Pembicaraan lanjutan berakhir tanpa kesepakatan konkret meskipun kedua pihak tetap melanjutkan proses negosiasi.
Saat ini, perundingan masih berfokus pada penyusunan kerangka nota kesepahaman sebagai dasar penyelesaian konflik yang lebih permanen.
Namun di tengah proses diplomatik tersebut, kedua negara masih beberapa kali terlibat dalam aksi militer terbatas yang menunjukkan tingginya tingkat ketidakpercayaan di antara kedua pihak.

