Yogyakarta (tutur.co.id) – Ngapem adalah budaya yang turun temurun dilakukan oleh para putri Sultan Keraton Yogyakarta dan permaisuri. Sabtu (17/1/2026) prosesi ngapem kembali digelar. Kali ini dalam rangkaian kegiatan memperingati kenaikan tahta ke-38 Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Tradisi prosesi ngapem hanya dilakukan oleh para putri, permaisuri, abdi dalam putri di bangsal Sekar Kedhaton Keraton Yogyakarta. Meski bersifat tertutup, namun masyarakat atau netizen dapat menyaksikan secara langsung melalui akun Instagram Keraton Yogyakarta.

Kebersamaan dan kesederhanaan tergambar dari prosesi ngapem tersebut. GKR Hemas tampak luwes mengerjakan pembuatan apem. Beliau tak sendiri, para putrinya hadir mendampingi di sisi kanan dan kirinya. Para putri dalem, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara semua mengerjakan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh permaisuri.
Menuangkan adonan apem ke dalam wadah tanah liat untuk dipanggang, mengangkatnya dan mengulangi lagi prosesnya. Semua dikerjakan satu-persatu secara telaten.

Prosesi ini mengundang pertanyaan netizen di kolom komentar.
Kenapa sampai ratu ikut bikin apem? Apa ada filosofinya sendiri
Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh salah satu putri Sultan HB X, GKR Hayu.
Ini kurang lebih dalam rangka syukuran kenaikan tahta dimana apem ini selain menjadi kelengkapan upacara juga dibagikan untuk keluarga besar dan abdi dalem. Sehingga keluarga terdekat yang membuat sendiri apem-apemnya.
Itu kalau yang masak tidak dengan iklas, biasanya tidak akan jadi dengan bagus.
Apa saja makna di balik prosesi ngapem ini?
Makna Simbol Mohon Pengampunan
Berasal dari bahasa serapan Arab affuwun atau afuanĀ yang berarti maaf atau ampun. Membuat dan membagikan apem sebagai simbol permohonan ampun kepada Tuhan.
Doa Keselamatan
NgapemĀ dilakukan untuk memohon keselamatan berkah bagi Sultan atau Raja yang bertahta agar terhindar dari marabahaya.
Penghormatan dan Kebersamaan
Dikerjakan oleh para putri kerabat dan abdi dalem putri menampakkan keterlibatan aktif, melestarikan budaya dan silaturahmi.

