Islamabad (tutur.co.id) – Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan setelah pembicaraan maraton di Pakistan. Diplomasi Panjang yang harus melewati tiga fase di Islamabad, Pakistan ini berakhir pada Minggu 12 April 2026 tanpa ada titik temu.
Wakil Presiden JD Vance mengatakan para negosiator akan kembali ke AS tanpa kesepakatan setelah Iran gagal memberikan komitmen bahwa mereka tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir.
“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa garis merah kami, hal-hal apa yang bersedia kami akomodasi, dan hal-hal apa yang tidak bersedia kami akomodasi,” kata Vance kepada wartawan pada Minggu pagi di Islamabad.
Media Iran juga mengkonfirmasi kegagalan pembicaraan, dengan kantor berita semi-resmi Fars mengatakan tidak ada rencana untuk putaran diskusi baru lagi. Dengan kata lain, Perang Iran akan Kembali memanas setelah masa gencatan senjata.
“Dan kami telah menjelaskannya sejelas mungkin, dan mereka telah memilih untuk tidak menerima persyaratan kami,” kata Vance.
Kegagalan pembicaraan ini merupakan kemunduran bagi kedua belah pihak setelah gencatan senjata yang rapuh selama dua minggu tercapai pekan lalu. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan pertempuran yang terus berlanjut antara Israel dan Hizbullah di Lebanon telah membebani pembicaraan di Islamabad.
Vance, yang didampingi oleh Jared Kushner dan Steve Witkoff, telah bernegosiasi dengan delegasi Iran yang beranggotakan 71 orang yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf.
Iran sendiri menggambarkan tuntutan AS dianggap sangat “berlebihan”. Menurut kantor berita semi-resmi Tasnim, AS telah mencari konsesi yang tidak dapat mereka peroleh dalam perang, termasuk seputar Selat Hormuz dan pemindahan material nuklir.
Kegagalan mencapai kesepakatan setelah pembicaraan maraton kemungkinan akan mengguncang pasar minyak dan gas pada hari Senin, meskipun ada indikasi peningkatan lalu lintas melalui selat tersebut pada akhir pekan. Konflik tersebut telah mengacaukan ekonomi dunia dan mengganggu pasokan energi global.
Ghalibaf telah waspada terhadap negosiasi sebelum pembicaraan dimulai, mengatakan saat kedatangannya di Islamabad pada hari Sabtu bahwa “kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak memiliki kepercayaan,” kata Ghalibaf sebelum bertemu delegasi AS.
Selain itu, Iran juga bersikeras bahwa gencatan senjata di Lebanon harus menjadi prasyarat untuk pembicaraan. Namun faktnya, Israel yang bukan pihak dalam negosiasi Islamabad, terus menyerang kota-kota di Lebanon selatan. Hal ini yang membuat delegasi Iran geram.

