Jakarta (tutur.co.id) – Perang antara Amerika Serikat dibantu Israel kontra Iran saat ini masih dibayangi tensi tinggi. Gencatan senjata yang masih rapuh belum menjamin konflik di Kawasan Teluk tak bakal berlanjut. Analisa mendalam diberikan Dubes RI untuk Rusia 2008-2011, Prof Hamid Awaluddin.
Dalam podcast Bang Don Zuper Opini bersama host Don Bosco Selamun, Hamid Awaluddin menganggap Amerika Serikat saat ini dalam posisi yang tak menguntungkan. Istilah kerennya ‘maju kena mundur kena’. Kenapa bisa begitu?
“Kenapa Amerika Serikat masih bertahan? Ya bertahan supaya harga diri mereka sebagai superpower tetap terjaga. Sebenarnya secara militer sudah kalah,” kata Hamid Awaluddin.
Hal itu juga jelas terlihat, lanjut Hamid Awaluddin, dari tak sinkronnya ucapan Presiden Donald Trump. Mulai dari koar-koar akan memenangkan perang beberapa hari yang nyatanya sudah tiga bulan atau 87 hari hingga saat ini.
“Artinya apa? ya dia tidak mampu. Cermati kunjungan Trump ke China. Tujuannya wahai sahabat China, tolong deh jangan supply peralatan militer ke Iran. Kunjungan Trump itu, ada enggak statement bersama? Apalagi penandatanganan piagam kerjasama. Sebaliknya Putin 2 hari kemudian, 40 naskah kerjasama di tanda tangani. Jadi itu hanya basa-basi,” kata Hamid Awaluddin.
Analisa itu juga didukung dengan pasokan peralatan detektor Cina yang dipakai Iran untuk kapal pesawat termasuk pesawat siluman F-35 yang termahal dan tercanggih di dunia. Motif itu lah yang dianggap Hamid Awaluddin seorang Trump mendatangi Presiden Xi Jinping.
Saksikan perbincangan menarik Hamid Awaluddin bersama Don Bosco Selamun dalam podcast Bang Don Zuper Opini yang akan tayang sesaat lagi di Tutur TV.

