Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Energi & Tambang»Pemerintah Tahan Laju Batubara, Produksi Dipangkas demi Harga dan Keberlanjutan Energi

Pemerintah Tahan Laju Batubara, Produksi Dipangkas demi Harga dan Keberlanjutan Energi

Energi & Tambang Gusti Tetiro09 Januari 2026 / 10:19 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: Kementerian ESDM)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) — Langit pasar batubara global tengah mendung. Harga komoditas andalan Indonesia itu terus tertekan oleh pasokan berlebih. Ironisnya, sebagian besar berasal dari negeri sendiri. Pemerintah pun memilih mengubah arah: menekan produksi agar pasar kembali seimbang.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan, pemerintah berencana merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Langkah ini dimaksudkan untuk memangkas produksi batubara nasional sebagai respons atas kondisi oversupply yang berkepanjangan.

“Produksi batubara akan kita turunkan supaya harga bagus dan tambang ini kita harus wariskan kepada anak cucu kita,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Kementerian ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis, 8 Januari.

Menurut dia, pengelolaan sumber daya alam tidak boleh semata-mata berorientasi pada pengurasan cepat. “Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita harus jaga, aspek-aspek keadilan juga kita harus jaga,” ujarnya.

Indonesia selama ini memang menjadi pemain dominan di pasar batubara dunia. Dari total volume perdagangan global sekitar 1,3 miliar ton per tahun, Indonesia menyuplai sekitar 514 juta ton—atau hampir 43 persen. Dominasi inilah yang, menurut pemerintah, justru menciptakan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

“Akibatnya supply dan demand itu tidak terjaga, yang pada akhirnya membuat harga batubara turun,” ujar Bahlil. Ketika produksi terus digenjot tanpa mempertimbangkan daya serap pasar, harga menjadi korban pertama.

Belajar dari situasi tersebut, pemerintah berencana menata ulang kuota produksi melalui revisi RKAB. Target produksi batubara nasional yang pada 2025 mencapai sekitar 790 juta ton akan dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton. Pemangkasan ini diharapkan mampu mengerek harga sekaligus memperpanjang usia cadangan batubara nasional.

Baca Juga  Prabowo Lantik Anggota DEN, Bahlil Jadi Ketua Harian

Sepanjang 2025, pemanfaatan batubara untuk kebutuhan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) tercatat sekitar 32 persen dari total produksi, setara 254 juta ton. Sisanya—sekitar 514 juta ton—mengalir ke pasar ekspor. Ketergantungan pada ekspor inilah yang membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga global.

Saat ini, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara tengah menghitung ulang kuota produksi masing-masing perusahaan tambang melalui mekanisme RKAB. Pemerintah meminta pelaku usaha bersiap menyesuaikan rencana kerja mereka dengan kebijakan baru tersebut—sebuah sinyal bahwa era produksi tanpa rem mulai ditinggalkan.

Kebijakan pengetatan ini tidak berhenti pada batubara. Pemerintah juga mengisyaratkan langkah serupa untuk komoditas mineral lain, seperti nikel. Penyesuaian produksi dinilai perlu untuk mendukung agenda hilirisasi agar tidak sekadar menumpuk volume, tetapi menciptakan nilai tambah yang lebih adil dan berkelanjutan.

Di tengah tuntutan transisi energi dan tekanan lingkungan, keputusan menahan laju produksi batubara menjadi ujian konsistensi pemerintah. Apakah kebijakan ini benar-benar akan menjaga harga, lingkungan, dan keadilan antargenerasi—atau sekadar menjadi koreksi sesaat atas pasar yang kebanjiran pasokan.

Bahlil Lahadalia Batubara Energi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleMinyak Venezuela Jadi Rebutan di Meja Oval
Next Article Rekening Judol Kian Bertambah, OJK Memburu Jejak Uang Perjudian Daring

Berita Lainnya

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Elnusa Petrofin Perkuat Distribusi BBM, Penyaluran di Sumatra Utara Berangsur Normal

17 Juli 2026 / 22:42 WIB

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Bantah Isu Transporter Mogok Salurkan BBM

17 Juli 2026 / 17:49 WIB

Distribusi BBM Sumatera Utara Pulih, Antrean Menyusut dan Pasokan Aman Sentosa

17 Juli 2026 / 17:23 WIB

BBM Langka di Sumatera Utara, Komisi XII DPR RI Desak Pertamina Gerak Cepat

17 Juli 2026 / 15:48 WIB

Skema Ketat di Balik Solar Murah Kapal 30-200 GT

17 Juli 2026 / 15:34 WIB
Form Komentar Cancel Reply

BNI Bawa 10 UMKM Binaan Tampil di Dhawafest Pesona 2026

Galuh Parantri09 Maret 2026 / 21:00 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.