Jakarta (tutur.co.id) – Gudang-gudang minyak Venezuela mendadak menjadi panggung perebutan raksasa energi dunia. Dari Chevron hingga para pedagang minyak global seperti Vitol dan Trafigura, semuanya mengantre di Washington, berharap mendapat restu Gedung Putih untuk mengalirkan minyak mentah negeri yang lama terkunci embargo itu.
Setelah penangkapan Nicolas Maduro dan pengambilalihan kendali penuh oleh Presiden Donald Trump atas penjualan minyak Venezuela, sektor energi negara Amerika Latin tersebut kini sepenuhnya berada di bawah kendali politik dan menjadi komoditas strategis yang diperebutkan dengan penuh hitung-hitungan.
Tak lama setelah Maduro ditangkap pada Sabtu pekan lalu, Trump melontarkan tuntutan keras: akses penuh Amerika Serikat ke sektor minyak Venezuela. Dalam hitungan hari, Washington tak hanya mengendalikan arah politik Caracas, tetapi juga keran utama pendapatan negara itu. Pejabat AS menyebut Trump akan mengontrol penjualan dan aliran dana minyak Venezuela untuk jangka waktu yang belum ditentukan.
Situasi itu langsung memancing minat para pemain besar industri minyak global. Jumat ini, perwakilan Chevron, Vitol, Trafigura, dan sejumlah perusahaan minyak internasional dijadwalkan berkumpul di Gedung Putih. Agenda mereka satu: membicarakan masa depan industri minyak Venezuela dan porsi keuntungan yang bisa mereka amankan.
Di balik pintu tertutup, persaingan berlangsung sengit. Perusahaan-perusahaan ini berebut kontrak awal hingga 50 juta barel minyak mentah yang saat ini menumpuk di fasilitas penyimpanan milik perusahaan minyak negara, PDVSA. Stok tersebut mengendap akibat embargo ketat yang selama ini membatasi ekspor Venezuela, diperparah oleh penyitaan empat kapal tanker dalam beberapa bulan terakhir.
PDVSA mengakui negosiasi tengah berlangsung, meski memilih bungkam soal detail. Namun satu nama menonjol dalam perundingan: Chevron. Perusahaan asal Amerika Serikat itu berada di posisi istimewa sebagai satu-satunya raksasa minyak AS yang masih bertahan beroperasi di Venezuela di tengah sanksi bertahun-tahun. Posisi ini membuat Chevron relatif unggul dalam menawar perluasan izin dan peran yang lebih besar.
Sumber-sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebut Chevron kemungkinan akan memperdagangkan sebagian produksi PDVSA. Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan itu tak lagi sendirian. Para pedagang minyak asing kini ikut masuk gelanggang, menantang dominasi Chevron dalam bisnis minyak Venezuela.
Di sisi lain, PDVSA punya kepentingan sendiri. Perusahaan pelat merah itu berharap kesepakatan baru melibatkan mitra lama dan mantan pelanggan mereka. Targetnya bukan hanya menjual minyak yang menumpuk, tapi juga melunasi utang, mendongkrak produksi yang sempat terpuruk, dan mendapatkan harga yang lebih adil di pasar global.
Pemerintah AS pun mulai menyiapkan infrastruktur pendukung. Departemen Energi telah menjalin komunikasi dengan para pemasar komoditas dan perbankan internasional untuk mengatur skema pembiayaan penjualan minyak mentah dan bahan bakar Venezuela. Langkah ini menegaskan bahwa kendali Washington atas minyak Venezuela bukan bersifat sementara, melainkan bagian dari strategi geopolitik dan energi jangka panjang.
Di meja Oval Office, minyak Venezuela kini bukan sekadar sumber daya alam. Ia telah berubah menjadi alat tawar-menawar politik global—dan rebutan baru dalam peta energi dunia.

