Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak
  • Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya
  • Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?
  • Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Opini»OPINI: Thomas Djiwandono, Dengarkan Selalu Suara Hatimu!

OPINI: Thomas Djiwandono, Dengarkan Selalu Suara Hatimu!

Opini Gusti Tetiro28 Januari 2026 / 10:38 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Agustinus Tetiro dengan latar belakang lukisan Bung Karno di Perpustakaan Nasional di Bilangan Medan Merdeka, Jakarta (Foto: Tutur)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Thomas Djiwandono, Dengarkan Selalu Suara Hatimu!

Oleh: Agustinus Tetiro*

Menarik bahwa penetapan Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) terjadi satu hari sebelum dunia filsafat dan teologi Katolik merayakan hari yang dipersembahkan khusus bagi Santo Thomas Aquinas. Penetapan Thomas Djiwandono oleh DPR dilakukan pada rapat paripurna ke-12 pada Selasa (27/01/2026).

Terlahir dari keluarga Katolik, Deputi Gubernur BI kita yang baru ini memiliki nama orang kudus pelindung Thomas Aquinas (wafat 1271), yang dikenal luas sebagai imam, biarawan, filsuf dan teolog Katolik. Pada hampir semua keluarga Katolik, riwayat biografis dan pengaruh orang kudus pelindung biasanya diperkenalkan kepada sang anak. Pada gilirannya nanti, sang anak akan mencari tahu sendiri siapa, bagaimana dan apa saja inspirasi hidup yang bisa digali dari sang orang kudus pelindung.

Saya menduga, Thomas Djiwandono pasti melalui tahap itu dan mengerti dengan baik kisah hidup Santo Thomas Aquinas, penulis buku babon Summa Theologiae. Thomas Aquinas dijuluki sebagai doktor para malaikat (Doctor Angelicus), karena kepiawaiannya dalam memberikan pengajaran mulai dari konsep tentang Tuhan dan Kebenaran hingga rasa malu pada manusia, dari pemikiran tentang hidup bersama, hingga tata kelola keuangan komunitas dan negara, dan lain-lain.

Memperhatikan riwayat hidup singkat Thomas Djiwandono yang menyelesaikan SMA di Kolese Kanisius Jakarta dan studi Sejarah di Haverford College, Amerika Serikat (AS), saya memberanikan diri untuk menduga-duga tentang bagaimana riwayat hidup Thomas Aquinas dipahami dan diinternalisasi. Bagaimanapun, usia remaja adalah masa pencarian diri. Kolese Kanisius yang menghidupi tradisi pendidikan Jesuit tahu betul referensi bacaan-bacaan bagi para peserta didiknya.

Pilihan pada studi sejarah juga menarik untuk diperhatikan. Bagi orang yang tekun pada dunia filsafat dan ilmu Sejarah, kedua rumpun ilmu ini saling berkaitan. Filsafat adalah sejarah dengan penekanan pada saling silang pemikiran-pemikiran. Sementara, Sejarah adalah filsafat dengan contoh-contoh.

Kita kembali kepada introduksi amat singkat tentang Santo Thomas Aquinas bagi para remaja (Katolik). Santo Thomas mengajarkan bahwa manusia akan berbahagia jika bisa memandang Tuhan. Memandang Tuhan (visio beatifica) itu tentu saja tidak bisa dilakukan manusia di dunia. Akan tetapi, manusia di dunia bisa mendekati-Nya. Melalui apa?

Baca Juga  Opini: Perang Iran-Israel dan Rapuhnya Pasar Minyak Global

Lewat akal budi (intellectus) yang terbuka. Akal budi manusia bisa memahami Allah, karena Allah juga membuka diri kepada manusia dengan Rahmat-Nya.

Akal budi manusia adalah padanan kebebasan. Kebebasan manusia dan kehendaknya mengarahkan manusia kepada yang baik. Dengan pendasaran itu, imperatif moral dari Santo Thomas Aquinas jelas: “Lakukanlah yang baik, elakkanlah yang jahat!” (Bonum est faciendum et prosequendum, et malum vitandum!)

Bagi Thomas Aquinas, kemantapan sikap batin untuk selalu melakukan yang baik dan senantiasa mengelakkan yang jahat adalah keutamaan (virtus). Sampai di sini, kita bisa bertanya, yang baik dan yang jahat itu bagaimana panduannya?

Thomas mengajarkan dan mensistematisasi Hukum Kodrat, sesuatu yang dipelajarinya secara amat tekun dari kaum Stoa, khususnya Cicero, dan Santo Agustinus. “Hiduplah sesuai kodratmu!”, demikian gagasan dasarnya.

Hukum Kodrat hadir dalam dua bentuk. Pertama, hukum alam bagi semua makhluk bukan manusia: lahir, tumbuh, berkembang, mati menurut hukum alam masing-masing. Kedua, hukum kodrat pada manusia yang merupakan makhluk berakal budi dan makhluk rohani.

Manusia, karena akal budi dan kehendak bebasnya, bisa menyeleweng dari kodratnya. Manusia tahu dan paham tentang apa yang baik, tetapi melakukan yang baik adalah suatu pilihan bebas.

Thomas membedakan antara tindakan manusia (actus hominis) dan tindakan manusiawi (actus humanus). Tindakan manusia tidak khas manusia, ada juga pada binatang: bernapas, bertumbuh, buang hajat, dan lain-lain sebagai makhluk hidup.

Tindakan manusiawi mempunyai bobot moral yang tidak ada pada makhluk lain, karena dikuasai penuh oleh pertimbangan akal budi dan moral manusia dalam kebebasan. Dengan demikian, tindakan manusiawi menuntut tanggung jawab.

Manusia diminta dan terarah untuk selalu bijaksana. Bagi Thomas yang mengamini bahwa kebenaran selalu ada di tengah (veritas semper in medio): kebijaksanaan selalu ada di tengah antara ketololan di satu ekstreme dan sikap terlampau berhati-hati di ekstreme lainnya.

Baca Juga  Ketika Anak Bertanya Soal Longsor, Ibu Hadir

Melakukan yang baik dan mengelakkan yang jahat!, Keutamaan, dan Kebijaksanaan yang diajarkan Santo Thomas Aquinas ini membawa kita pada peran suara hati (conscientia), yang dibedakan dari Hati Nurani (Synteresis). Guru besar filsafat Romo Magnis Suseno SJ membantu kita memahami keduanya: “Synteresis adalah pengetahuan intuitif tentang prinsip-prinsip moral, sedangkan conscientia adalah penerapan prinsip-prinsip itu pada kasus konkret” (1997:91)

Hati Nurani berasal dari Allah Sang Kebenaran dan oleh karena itu tidak dapat keliru. Suara hati yang ada pada manusia adalah penerapan dan konkretisasi Hati Nurani dalam konteks-konteks spesifik. Karena manusia belum sempurna penuh tetapi bisa terarah kepada kesempurnaan, suara hati bisa saja benar tetapi juga bisa tidak tepat memahami Hati Nurani. Suara hati bisa keliru!

Meskipun begitu, peran suara hati tetap amat penting, karena suara hati adalah satu-satunya norma paling akhir yang harus diikuti manusia!

*****

Sejak awal suksesi jadi petinggi BI, Thomas Djiwandono selalu dihubung-hubungkan dengan kekuasaan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini tidak bisa dielakkan.

Kendati demikian, publik menaruh harapan besar pada figur Thomas Djiwandono sebagai pribadi otonom. Datang dari keluarga yang telah familiar dengan Bank Indonesia dan sejumlah pengalamannya sebagai praktisi bisnis, pegiat politik, wakil menteri keuangan serta basis pendidikan dan pengalaman kerjanya yang tidak selalu linear kiranya turut memperkaya dirinya dalam menghidupi dengan jiwa peran Bank Indonesia melalui bauran kebijakan.

Di hadapan publik, Thomas Djiwandono memastikan akan menjaga independensi BI dan menjaga Rupiah. Di dalam hatinya, kalau saya sebagai sesama alumnus sekolah Katolik dan warga bangsa boleh kembali mengingatkan saudara Djiwandono: Thomas, dengarkanlah selalu suara hatimu!

Selamat mengemban tugas sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia!

*) Penulis adalah Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dan Pengajar Filsafat Ekonomi di Unika Atma Jaya Jakarta

Dengarkan Selalu Suara Hatimu! thomas djiwandono
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleIbu: Panglima Keluarga, Memimpin Tanpa Seragam
Next Article Sentimen MSCI Tekan Pasar, IHSG Ambles 7,34% ke Level 8.321

Berita Lainnya

OPINI: Bank NTT dan Kerja Senyap Melki–Johni untuk Akselerasi Pembangunan

17 Juli 2026 / 06:37 WIB

Inggris vs Argentina: Tentang Kemasyhuran, Misteri, dan Kefanaan

15 Juli 2026 / 20:11 WIB

Jangan Jadikan Indonesia Surga Pencucian Uang

14 Juli 2026 / 08:22 WIB

Ketika Ekosistem PTN Menggerus Perguruan Tinggi Swasta

09 Juli 2026 / 07:00 WIB

Sang Monster Erling Haaland dan Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Etos Orang Norwegia

06 Juli 2026 / 09:19 WIB

Keluarga Besar AMSI Gelar Tahlilan dan Doa Bersama untuk Alm Maryadi

04 Juli 2026 / 23:37 WIB
Form Komentar Cancel Reply

WSW Angkat Isu Inner Child dan Unconditional Love sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga dan Bangsa

Gusti Tetiro17 Januari 2026 / 09:26 WIB

Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak

18 Juli 2026 / 16:19 WIB

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?

18 Juli 2026 / 16:00 WIB

Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul

18 Juli 2026 / 15:41 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.