Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Dino Patti Djalal Kritik Absennya RI Saat Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
  • Sang Monster Erling Haaland dan Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Etos Orang Norwegia
  • Penguatan IHSG Berlanjut, BRI Danareksa Rekomendasikan BUMI, PADI, dan AMMN
  • Samsat Keliling Hadir di 14 Titik Hari Ini, 6 Juli 2026
  • Catat! Lokasi Layanan SIM Keliling 6 Juli 2026
  • IHSG Berpeluang Uji Level 6.000, Analis Rekomendasikan 6 Saham Potensial
  • IHSG Menguat, Tapi Belum Aman! MNC Sekuritas Beberkan Strategi untuk AVIA, JPFA, MLPL, dan PSAB
  • Parade IPO Juli Dimulai, Analis Ingatkan Investor Jangan Terjebak Harga Murah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Opini»Sang Monster Erling Haaland dan Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Etos Orang Norwegia

Sang Monster Erling Haaland dan Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Etos Orang Norwegia

Opini Gusti Tetiro06 Juli 2026 / 09:19 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Erling Haaland, penyerang andalan Norwegia. (FIFA)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Sang Monster Erling Haaland dan Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Etos Orang Norwegia 

Oleh: Agustinus Tetiro*

Ada pemain sepak bola yang dikenal karena trofinya. Ada pula yang dikenang karena jumlah golnya. Namun, hanya sedikit yang mampu membuat dunia berbicara bukan hanya tentang kemampuannya, melainkan juga tentang cara ia membawa dirinya sebagai manusia. Erling Haaland berada di kelompok yang langka itu.

Ketika tiba di Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Haaland datang dengan status sebagai salah satu penyerang paling mematikan di dunia. Bersama Manchester City di bawah asuhan Pep Guardiola, ia telah menjelma menjadi “monster” di kotak penalti. Tubuhnya yang menjulang, kecepatan yang sulit dipercaya, naluri gol yang nyaris sempurna, serta ketenangan luar biasa di depan gawang membuat banyak bek memilih ber-‘do(s)a’ daripada mencoba menghentikannya.

Namun, di balik reputasi yang begitu menakutkan, Haaland justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Ia memilih datang sebagai pribadi yang sederhana.

“Saya datang ke Piala Dunia sebagai anggota Timnas Norwegia. Kami tahu persaingannya sangat berat. Kami akan realistis, tetapi kami akan memberikan yang terbaik,” ujarnya sebelum turnamen dimulai.

Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun, di era ketika banyak atlet gemar membangun citra diri yang megah, ucapan Haaland justru terasa menyejukkan. Tidak ada kesan bahwa ia merasa lebih besar daripada timnya. Tidak ada aura superstar yang ingin menjadi pusat semesta. Yang ada hanyalah seorang pemain yang sadar bahwa sepak bola selalu dimainkan oleh sebelas orang.

Laga demi laga kemudian bergulir. Norwegia membuat kejutan. Kemenangan demi kemenangan mereka raih. Haaland kembali menjadi mesin gol yang menakutkan. Namanya mulai bersanding dengan Lionel Messi, Kylian Mbappé, Vinícius Júnior, dan para bintang dunia lainnya dalam daftar pencetak gol terbanyak turnamen.

Namun, ketika wartawan kembali memujinya, jawaban Haaland tetap sama sederhananya.

“Saya hanya bisa mencetak gol. Itu saja yang bisa saya lakukan. Hal-hal lain rasanya sulit saya lakukan dengan baik.”

Kalimat itu mengandung kerendahan hati yang jarang ditemukan pada pemain dengan status sebesar dirinya. Ia tidak sibuk membangun narasi tentang kejeniusannya. Ia justru mengakui keterbatasannya sambil terus menjalankan tugas yang memang menjadi tanggung jawabnya.

Baca Juga  Statistik Menjagokan Brasil, Sejarah Menguntungkan Norwegia

Mungkin di situlah letak keistimewaan Haaland. Ia tidak berusaha menjadi seseorang yang sempurna. Ia hanya berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya.

Keberhasilan Norwegia sendiri tidak hanya terjadi di atas lapangan. Bahkan sebelum bola pertama ditendang, negara Nordik itu sudah mencuri perhatian dunia melalui cara yang sangat kreatif. Video perkenalan para pemain dan ofisial tidak sekadar memperlihatkan wajah-wajah mereka, tetapi juga membawa penonton menjelajahi fjord yang megah, pegunungan yang dramatis, desa-desa kecil yang tenang, hingga kekayaan budaya Norwegia.

Piala Dunia bagi Norwegia bukan hanya panggung olahraga. Ia menjadi jendela untuk memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia. Pesan yang mereka sampaikan sederhana tetapi kuat: sepak bola dapat menjadi bahasa universal untuk memperkenalkan peradaban.

Tradisi itu berlanjut setiap kali Norwegia meraih kemenangan. Ribuan pendukung bersama para pemain melakukan The Viking Row, sebuah selebrasi yang terinspirasi dari semangat para pelaut Viking. Irama drum bergema, para pemain duduk berbaris, lalu mengayunkan tubuh secara serempak mengikuti aba-aba sang pemimpin.

Pada pagi yang bersejarah ketika Norwegia menumbangkan Brasil, Haaland sendiri berdiri di depan sebagai penabuh drum. Ia memimpin nyanyian dan teriakan kemenangan yang menggema di seluruh stadion. Tidak ada jarak antara bintang lapangan dengan para pendukungnya. Ia larut menjadi bagian dari komunitas yang sedang merayakan kebahagiaan bersama.

Di lapangan, Haaland kembali menunjukkan kelasnya.

Gol pertama lahir melalui sundulan keras memanfaatkan umpan silang yang presisi. Gol kedua bahkan terasa lebih indah karena kesederhanaannya. Ia menerima bola dengan tenang, mengontrolnya tanpa tergesa-gesa, lalu melepaskan tendangan kaki kiri ke sudut kanan gawang. Tidak keras. Tidak dramatis. Tetapi begitu akurat sehingga penjaga gawang hanya bisa menyaksikan bola bersarang di jaring.

Yang lebih menarik justru terjadi setelah gol itu tercipta.

Tidak ada selebrasi berlebihan. Tidak ada gestur yang ingin mempermalukan lawan. Yang terlihat hanyalah senyum lebar Haaland.

Para komentator kemudian mengatakan bahwa senyum itu berbicara lebih banyak daripada ribuan kata. Senyum seorang pemain yang menikmati permainan. Senyum seorang atlet yang mencintai pekerjaannya. Senyum seorang pemenang yang tidak merasa perlu merendahkan siapa pun untuk membuktikan kebesarannya.

Baca Juga  Norwegia Taklukkan Pantai Gading dan Tantang Brasil di 16 Besar

Barangkali sikap itu tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari budaya masyarakat Norwegia yang selama puluhan tahun dikenal menjunjung tinggi kesetaraan, kesederhanaan, dan kepercayaan. Di negeri itu, keberhasilan pribadi tidak dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, prestasi dipandang sebagai hasil kerja keras yang tetap harus dibarengi rasa hormat kepada sesama.

Etos kerja orang Norwegia juga mengajarkan pentingnya disiplin, profesionalisme, dan tanggung jawab. Mereka terkenal menghargai waktu, bekerja secara efisien, serta mengutamakan kualitas dibandingkan sekadar bekerja lebih lama. Kepemimpinan dijalankan dengan pendekatan yang egaliter; atasan lebih sering menjadi rekan diskusi daripada sosok yang berjarak. Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam hubungan kerja sehingga kolaborasi dapat tumbuh secara alami.

Budaya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance) juga membuat masyarakat Norwegia mampu mempertahankan produktivitas tanpa kehilangan kualitas hidup. Mereka percaya bahwa manusia yang bahagia akan menghasilkan karya yang lebih baik daripada manusia yang terus-menerus hidup dalam tekanan.

Nilai-nilai itulah yang tampaknya ikut membentuk karakter Haaland. Ia boleh menjadi monster di depan gawang, tetapi tetap manusia yang ramah di luar lapangan. Ia boleh menjadi mesin gol yang ditakuti lawan, tetapi tetap pribadi yang murah senyum kepada siapa pun.

Di tengah dunia olahraga modern yang sering dipenuhi ego, kontroversi, dan pencitraan, Haaland menghadirkan pelajaran yang jauh lebih penting daripada sekadar cara mencetak gol. Ia menunjukkan bahwa kehebatan sejati bukan hanya diukur dari jumlah trofi atau rekor yang dipecahkan, melainkan juga dari kemampuan menjaga kerendahan hati ketika dunia sedang memuja.

Pagi ini, dunia kembali menyaksikan seorang monster yang berbeda. Monster yang tidak mengaum untuk menakut-nakuti, tetapi tersenyum untuk menginspirasi. Namanya Erling Haaland.

Dan barangkali, senyumnya itulah yang akan dikenang jauh lebih lama daripada dua gol indah yang ia cetak ke gawang Brasil.

*)Agustinus Tetiro, analis bola. Substansi artikel ini ditulis sang analis, dengan bantuan teknis dari artificial intelligence/AI

berita bola Brasil vs Norwegia daftar tim lolos Piala Dunia 2026 Erling Haaland
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePenguatan IHSG Berlanjut, BRI Danareksa Rekomendasikan BUMI, PADI, dan AMMN
Next Article Dino Patti Djalal Kritik Absennya RI Saat Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

Berita Lainnya

Rekor Buruk Hantui Brasil! Selecao Belum Pernah Menang atas Norwegia

05 Juli 2026 / 18:00 WIB

Statistik Menjagokan Brasil, Sejarah Menguntungkan Norwegia

05 Juli 2026 / 16:00 WIB

Brasil vs Norwegia: Rekor Buruk 3 Dekade Membayangi Selecao

05 Juli 2026 / 11:00 WIB

Keluarga Besar AMSI Gelar Tahlilan dan Doa Bersama untuk Alm Maryadi

04 Juli 2026 / 23:37 WIB

Link Doa Bersama Almarhum Maryadi Sekjen AMSI dan Direktur Bisnis Tutur Media

04 Juli 2026 / 18:42 WIB

Tutur Berduka Kehilangan Sosok Maryadi Direktur Bisnis Tutur Media Digital

03 Juli 2026 / 23:26 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Jadi Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi, Hasan Nasbi: Siap Kerja Sama dengan Komdigi dan Bakom

Toto Pribadi27 April 2026 / 18:58 WIB

Dino Patti Djalal Kritik Absennya RI Saat Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

06 Juli 2026 / 10:01 WIB

Sang Monster Erling Haaland dan Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Etos Orang Norwegia

06 Juli 2026 / 09:19 WIB

Penguatan IHSG Berlanjut, BRI Danareksa Rekomendasikan BUMI, PADI, dan AMMN

06 Juli 2026 / 08:08 WIB

Samsat Keliling Hadir di 14 Titik Hari Ini, 6 Juli 2026

06 Juli 2026 / 07:48 WIB

Catat! Lokasi Layanan SIM Keliling 6 Juli 2026

06 Juli 2026 / 07:43 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.