Jakarta (tutur.co.id)- Saat hujan deras, televisi menyala, dan berita tentang longsor datang menyapa. Singkat, padat, dan sering kali tanpa jeda empati. Seorang anak bertanya pelan, “Bu, longsor itu apa?”. Apa jawaban Anda?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, bagi Anda orang dewasa. Tapi bagi ibu, pertanyaan ini mengandung dua hal yaitu kewajiban menjelaskan dan tanggung jawab menjaga rasa aman.
Ibu sebagai Penerjemah Bencana
Anak-anak tidak memahami bencana lewat angka korban atau peta wilayah terdampak. Mereka akan menyerapnya dari potongan cerita, nada suara orang dewasa, dan ekspresi cemas yang tak selalu disadari. Karena itu, cara ibu menjelaskan longsor sering kali lebih menentukan daripada berita televisi.
Gunakan bahasa sederhana saat coba menjelaskan. Misal: tanah bisa bergerak karena hujan sangat deras di tempat tertentu. Tidak semua hujan berarti bahaya. Tidak semua tempat berisiko sama.
Jaga Kecemasan Anak, Bukan Menyangkalnya
Kecemasan yang diutarakan anak tidak selalu membutuhkan jawaban cepat. Rasa perlu diakui dan ditemani. Mendengarkan pertanyaan yang sama berulang kali, serta menjaga rutinitas harian tetap berjalan, sering kali lebih menenangkan daripada menjawab cepat dengan kalimat “tidak usah takut”.
Di saat yang sama, paparan berita yang berlebihan justru dapat memperkuat rasa cemas. Di sinilah peran Anda, sebagai ibu si penyaring informasi menjadi penting.
Kecemasan Ibu yang Jarang Dibicarakan
Di balik jawaban yang terdengar tenang, ada kecemasan ibu sendiri. Ibu juga membaca berita. Juga membayangkan kemungkinan terburuk. Namun ia belajar mengatur napas sebelum menjawab, agar ketenangan yang dipinjamkan cukup bagi anaknya—setidaknya untuk malam itu.
Hadir sebagai Rasa Aman
Di tengah kabar bencana yang datang silih berganti, anak tidak menuntut penjelasan sempurna. Mereka hanya mencari nada suara Anda yang stabil dan kehadiran yang konsisten.
Sering kali, di situlah peran Anda sebagai Ibu paling berarti: hadir, menjelaskan secukupnya, dan menjaga ruang aman di rumah tetap utuh.

