Melki-Johni Butuh NTT Watch
(Sumbang Saran untuk 5 Tim Percepatan Pembangunan NTT)
Oleh: Agustinus Tetiro
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena membentuk 5 tim percepatan pembangunan. Pembentukan tim ini bertujuan mempercepat koordinasi lintas sektor dan memastikan program prioritas berjalan efektif sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Gubernur membagi percepatan pembangunan dalam lima tim strategis berdasarkan fokus pembangunan. Pertama, Tim Akselerasi Dasacita dan Program Pusat di Daerah, dipimpin Alfons Theodorus. Tim ini mereviu implementasi program unggulan daerah (Dasacita) serta program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, dan swasembada pangan.
Kedua, Tim Implementasi Pendataan dan Penanggulangan Kemiskinan Terpadu, dipimpin Jonny Ericson Ataupah. Gubernur menargetkan angka kemiskinan turun dari 17,5 persen menjadi 11,5 persen pada akhir masa kepemimpinan, dengan validasi data hingga tingkat desa. Ketiga, Tim Optimalisasi PAD, dipimpin Bernhard Menoh, bertugas menutup kebocoran pajak dan menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD) baru.
Keempat, Tim Penguatan Ekonomi Kerakyatan, dipimpin Selfi Nange, berfokus pada hilirisasi produk lokal melalui NTT Mart serta optimalisasi penyaluran KUR bagi ASN dan UMKM untuk kegiatan produktif. Kelima, Tim Komunikasi Pemerintahan, dipimpin Prisila Parera, bertugas memproduksi konten positif harian guna menjaga ruang publik dan membangun optimisme masyarakat.
Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTT Yosef Rasi menjelaskan, masing-masing tim beranggotakan 50 orang dengan komposisi 60 persen (30 orang) pejabat struktural dan 40 persen (20 orang) staf. Tim bersifat lintas sektor dan bekerja berdasarkan kapasitas serta kompetensi individu, bukan semata jabatan birokrasi.
Langkah ini dinilai sebagai pendekatan manajerial untuk menyelaraskan potensi sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam, dan budaya dalam mendukung target pembangunan daerah. Kinerja 5 tim percepatan ini akan dievaluasi setiap bulan.
Sumbang-Saran: Dari Profil hingga Kritik
Publik tentu belum bisa mengapresiasi dan menilai kinerja tim percepatan pembangunan ini. Akan tetapi, sejumlah hal bisa dibayangkan sebagai sumbang saran untuk tim yang diharapkan mampu menerjemahkan visi-misi pasangan gubernur dan wakil gubernur NTT Melki Laka Lena dan Johni Asadoma (Melki-Johni).
Pertama, profiles and personalities. Profil dari masing-masing ketua dan pengurus kelima tim ini harus dirilis ke publik. Agar, publik tahu siapa dan bagaimana kiprah Alfons Theodorus, Jonny Ericson Ataupah, Bernhard Menoh, Selfi Nange dan Prisila Parera, serta 49 orang yang berada di bawah masing-masing mereka. Kelima pribadi yang telah dipercayakan untuk menjadi akselerator utama pembangunan NTT haruslah juga pribadi-pribadi yang luwes dan lincah dalam komunikasi publik yang strategis dan efektif.
Paling sederhana adalah ketika seseorang ingin tahu kelima pribadi ini dengan bertanya pada Meta AI, harapannya ada jawaban yang cukup representatif dan bila perlu komprehensif. Jangan sampai ada kesan riwayat biografis dan rekam jejak kinerja mereka sulit ditemukan di jagat maya, apalagi kalau nanti menimbulkan keluhan susah dihubungi oleh investor, para awak media dan sejumlah pihak yang berkepentingan langsung bagi NTT.
Terbaru, misalnya, ada instruksi Gubernur Melki agar ASN/PNS tidak bermain politik praktis. Kalau teridentifikasi main politik praktis, ya segera diproses. ASN tidak boleh berpolitik praktis. Titik. Jangan menciptakan situasi kontra-produktif bagi NTT!
Kedua, website dan keterbukaan informasi yang interaktif. Masih dalam hubungan dengan saran pertama, untuk menjawab kelancaran komunikasi publik, kelima tim percepatan ini hendaknya membangun sebuah website khusus dengan nama baru yang harus segera disosialisasikan. Atau, minimal memiliki akun-akun resmi pada sejumlah media sosial sebagai wahana laporan kinerja dan pertanggungjawaban yang dibuat dengan ilustrasi, data grafis dan hal-hal yang informatif dan atraktif.
Kita tengah hidup di era digital. Dengan keterbukaan informasi yang terus diperbaharui pada salah satu website atau media sosial tertentu, seorang mahasiswa asal NTT penerima beasiswa LPDP di Melbourne atau London bisa memberikan sumbang saran bagi tim percepatan pembangunan. Atau, seorang misionaris asal NTT di Washington atau Berlin bisa mengkritik suatu kebijakan berdasarkan pengalaman dan basis keilmuan mereka di negeri orang.
Ketiga, evaluasi internal dan eksternal. Tim percepatan pembangunan ini tidak boleh anti-kritik, dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Evaluasi perlu dilakukan secara internal dan eksternal. Evaluasi internal dilakukan dalam semangat correctio fratena: menjadi saudara berarti siap untuk saling mengkritik dan saling mendidik. Para ASN Pemprov NTT mesti terbiasa untuk melakukan auto-kritik. Gubernur NTT selalu melihat kritik secara produktif: “Kritik adalah vitamin”.
Jadi, jangan sampai para ASN tidak suka minum ‘vitamin’!
Sementara itu, evaluasi eksternal dilakukan dalam semangat korektif dan konstruktif. Evaluasi eksternal bisa dilakukan oleh semua orang di luar birokrasi, terutama oleh kampus dan masyarakat madani (civil societies). Para akademisi dari sejumlah kampus di Kupang diharapkan mempunyai konsistensi untuk turut membangun NTT dengan evaluasi yang fair dan membangun. Para pemikir dari Ledalero diharapkan bisa memberikan pemikiran-pemikiran kritis dan bernas bagi Flobamora.
Begitu juga dengan peran media massa dan media sosial yang bisa dimainkan. Media massa perlu tahu tentang judul dan angles berita yang lebih membantu daripada membantai. Para ASN yang jumlahnya belasan ribu bisa diminta untuk menggerakan sejumlah inisiatif khas NTT untuk diperkenalkan melalui akun masing-masing dengan penyeragaman tagar dan lain-lain.
Jangan sampai konten media sosial ASN/PNS Pemprov NTT lebih banyak berisi joget-joget daripada penjelasan tentang NTT Mart dan kunjungan mereka ke destinasi wisata di Flores, Sumba dan Timor
Keempat, reward and punishment. Jika kita berharap tim percepatan pembangunan NTT ini bekerja baik, benar dan tepat sasaran, kita perlu menjalankan suatu prinsip yang hampir selalu dimainkan oleh perusahan-perusahan swasta yang bonafid, yaitu reward and punishment. Kepada mereka yang bekerja baik, melampaui target, kita memberikan hadiah dan penghargaan apresiatif. Kepada mereka yang tidak bisa mencapai target apalagi yang mencederai atur-main, kita beri hukuman. Tentu, yang sesuai dengan aturan bagi para ASN.
Kita semua adalah orang-orang berkehendak baik untuk membangun NTT, maka tugas kita adalah mengubah kehendak itu menjadi kerja nyata bagi NTT. Kerja nyata berada pada dua sisi: pihak yang membangun dan pihak yang mengkritik. Kita selalu butuh semacam NTT Watch bagi apa yang kita impikan dan bangun bersama.
Jika itu dijalankan, kita jangan hanya bicara kemiskinan ditekan hingga 11,5%, tetapi kita berani bertaruh untuk menekannya hingga satu digit (9,9%) pada akhir masa Melki-Johni. Semoga.
Ayo Bangun NTT!


1 Komentar
Lebih perhatikan akses2 jalan,fasilitas kesehatan terutama untuk RS.swasta di NTT ,bantuan beasiswa untuk keluarga tidak mampu