Jakarta (tutur.co.id) — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan nyata terhadap perekonomian global. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel berpotensi mengganggu jalur pemulihan ekonomi dunia.
Menurut perempuan yang akrab disapa Kiki itu, sebelumnya ekonomi global sempat berada di jalur penguatan seiring meredanya tekanan inflasi dan membaiknya permintaan. Namun, eskalasi konflik yang terjadi sejak akhir Februari 2026 telah mengubah arah tersebut secara signifikan.
Ia menambahkan, laporan terbaru dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) bahkan telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi di mayoritas negara di dunia, sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian global.
“Situasi di Timur Tengah memicu disrupsi rantai pasok energi yang berdampak pada kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya. Tidak hanya itu, dampak lanjutan dapat memicu tekanan inflasi global serta menurunkan daya beli dan permintaan agregat,” jelasnya dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026).
Kondisi tersebut, lanjut Kiki, membuka peluang terjadinya perlambatan ekonomi global yang semakin nyata di tengah tekanan eksternal yang terus berkembang.
Meski demikian, ia memastikan sektor jasa keuangan di Indonesia masih berada dalam kondisi stabil. Hal ini tercermin dari permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta risiko yang tetap terjaga di tengah gejolak global.
“Kinerja sektor jasa keuangan masih terpantau stabil, terlihat dari permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan risiko yang terjaga,” ujarnya.
Namun, OJK tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Kiki menekankan bahwa seluruh lembaga jasa keuangan perlu memperkuat manajemen risiko sebagai langkah antisipatif terhadap potensi peningkatan tekanan akibat kondisi geopolitik.
Ia juga mendorong pelaku industri untuk melakukan asesmen secara forward looking, mencermati kualitas debitur, serta menjaga kecukupan likuiditas dan permodalan agar tetap tangguh menghadapi ketidakpastian global.
Dengan dinamika global yang semakin kompleks, sektor keuangan nasional diharapkan tetap adaptif dan resilien dalam menghadapi potensi guncangan yang datang dari luar negeri.

