Jakarta (tutur.co.id) — Phintraco Sekuritas memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Jumat (27/2/2026). IHSG diperkirakan bergerak di rentang resistance 8.250, pivot 8.200, dan support 8.150.
Dalam risetnya, Phintraco menyebut IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup turun 1,05% ke level 8.235,26, setelah sempat menyentuh 8.358 di awal sesi. Tekanan datang dari sentimen global, khususnya kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) terhadap produk panel surya dari India, Indonesia, dan Laos.
“Hal itu dilakukan dengan alasan industri panel surya di tiga negara tersebut dilindungi subsidi,” tulis Phintraco dalam risetnya.
AS menetapkan tarif sebesar 125,87% untuk produk dari India, 104,38% untuk Indonesia, dan 80,67% untuk Laos. Bahkan, sejumlah perusahaan Indonesia seperti PT Blue Sky Solar dan PT REC Solar Energy dikenakan tarif individu lebih tinggi.
Selain itu, Perwakilan Perdagangan AS (USTR) juga berencana membuka penyelidikan Pasal 301 terhadap praktik perdagangan Indonesia, termasuk terkait subsidi perikanan. Sentimen negatif turut diperkuat oleh peringatan S&P Global Ratings mengenai meningkatnya tekanan fiskal Indonesia.
“Meski S&P belum mengubah outlook stabil pada peringkat kredit Indonesia di level BBB, peringatan tersebut menunjukkan kekhawatiran yang semakin meluas terhadap posisi fiskal Indonesia,” jelas Phintraco.
Secara teknikal, pelemahan IHSG tertahan MA20 di kisaran 8.204. Namun histogram MACD positif mengecil dan stochastic RSI membentuk death cross di area overbought.
“Sehingga IHSG hari ini masih berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level 8.150,” tulis Phintraco.
Di tengah potensi koreksi, Phintraco merekomendasikan lima saham berpeluang cuan, yakni PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), serta PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

