Jakarta (tutur.co.id) — Tren penggunaan kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan selama periode mudik Lebaran 2026. Masyarakat mulai beralih menggunakan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) untuk perjalanan jarak jauh, didorong oleh efisiensi biaya dan ketersediaan infrastruktur yang semakin memadai.
ENTREV National Project Manager, Nasrullah Salim, menilai fenomena ini mencerminkan perubahan persepsi publik terhadap kendaraan listrik sebagai moda transportasi yang andal.
“Peningkatan penggunaan kendaraan listrik saat periode mudik Lebaran Idul Fitri 1447 H ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat kendaraan listrik sebagai pilihan transportasi yang praktis, efisien, dan dapat diandalkan untuk perjalanan jarak jauh,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, penguatan infrastruktur pengisian daya menjadi faktor krusial dalam mendorong adopsi kendaraan listrik. Ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang semakin luas dinilai mampu meningkatkan rasa aman pengguna saat melakukan perjalanan antarkota.
“Ketersediaan SPKLU yang semakin luas memberi rasa aman bagi pengguna kendaraan listrik, sehingga perjalanan antarkota, termasuk saat mudik Lebaran, dapat dilakukan dengan lebih tenang dan terencana,” tambah Nasrullah.
Data PT PLN (Persero) mencatat terdapat 201.900 transaksi pengisian daya kendaraan listrik selama periode mudik Lebaran 2026. Dengan asumsi rata-rata setiap kendaraan melakukan pengisian daya sebanyak tiga kali, jumlah kendaraan listrik yang digunakan untuk mudik diperkirakan mencapai lebih dari 60 ribu unit.
Meski demikian, kontribusi kendaraan listrik terhadap total arus mudik nasional masih relatif kecil. Dari puluhan juta kendaraan yang digunakan masyarakat untuk mudik, penggunaan kendaraan listrik diperkirakan masih di bawah 1%. Namun, angka tersebut mencerminkan tren peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun.
Dari sisi efisiensi, penggunaan kendaraan listrik terbukti memberikan penghematan signifikan. Selama periode mudik, total konsumsi listrik tercatat sebesar 4.764.656 kWh. Jika dikonversi, jumlah tersebut setara dengan sekitar 3,66 juta liter bahan bakar minyak (BBM).
Dengan asumsi harga Pertamax Rp12.300 per liter, penggunaan kendaraan listrik selama mudik Lebaran 2026 menghasilkan penghematan biaya energi hingga sekitar Rp33,3 miliar dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Perkembangan kendaraan listrik secara nasional juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Korlantas Polri per Maret 2026, jumlah KBLBB di Indonesia telah mencapai 413.542 unit. Angka tersebut terdiri dari 239.196 sepeda motor listrik, 172.242 mobil penumpang listrik, 871 mobil barang listrik, 722 bus listrik, serta 89 kendaraan khusus.
Seiring dengan pertumbuhan tersebut, pembangunan infrastruktur pengisian daya juga terus dipercepat. Sepanjang 2025, PT PLN (Persero) bersama mitra telah menghadirkan 4.655 unit SPKLU di berbagai wilayah Indonesia—meningkat sekitar 44% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3.223 unit.
Jaringan SPKLU kini telah tersebar di 3.007 titik lokasi operasional, naik signifikan dari 2.192 lokasi pada 2024. Ekspansi ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang lebih kuat dan berkelanjutan di Indonesia.
Dengan dukungan infrastruktur dan efisiensi biaya yang semakin kompetitif, kendaraan listrik diproyeksikan akan memainkan peran yang lebih besar dalam sistem transportasi nasional ke depan.

