Jakarta (tutur.co.id) – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) untuk mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di area operasional dan lahan pascatambang milik PTBA.
Kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam mendukung program pembangunan PLTS 100 GW yang ditargetkan tercapai pada 2029. Penandatanganan berlangsung di Kantor Pusat PTBA, Jakarta, Kamis 2 Juni 2026. Sinergi ini diharapkan dapat mengonversi aset nasional menjadi pusat energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Corporate Secretary Pertamina NRE, Sri Nur Hidayati, mengatakan kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat pengembangan energi hijau. Menurutnya, transisi energi memerlukan kolaborasi yang mengintegrasikan pengembangan proyek dan kesiapan ekosistem industri nasional.
“Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan proyek-proyek energi hijau yang berkelanjutan, tetapi juga mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), memperkuat ekosistem industri nasional, serta membuka peluang pendanaan hijau untuk mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia,” ujar Sri.
Ruang lingkup kerja sama mencakup identifikasi lokasi, studi kelayakan teknis dan finansial, evaluasi model kerja sama, hingga pengembangan proyek secara penuh. Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menegaskan komitmen PTBA dalam mendukung penyelamatan lingkungan melalui gagasan ‘Sustainability Through Technology’.
“Melalui kerja sama dengan PT Pertamina New & Renewable Energy, kami melihat peluang besar untuk mengoptimalkan aset nasional yang dimiliki PTBA, termasuk pemanfaatan lahan pascatambang sebagai kawasan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) maupun berbagai potensi renewable energy lainnya yang dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan,” jelas Turino.
Sinergi ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi antar-BUMN mampu mempercepat ketahanan energi nasional yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan melalui optimalisasi ribuan hektar lahan pascatambang demi masa depan Indonesia.

