Teheran (Tutur.co.id) – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) berhasil mempermalukan Donald Trump. Hanya dalam Waktu 24 jam, dua jet tempur Amerika Serikat berhasil ditembak jatuh plus dua helicopter Black Hawk dibuat babak belur. Pertanyaannya, bagaimana Iran bisa menargetkan jet tempur super canggih Amerika Serikat?
Tampaknya masa-masa indah terbang di langit Iran telah berakhir bagi militer AS. Sesumbar Trump tentang dominasi AS atas wilayah udara Iran tampaknya tak berlaku lagi. Dalam 24 jam terakhir, dua pesawat militer AS dan dua helikopter Black Hawk, yang terlibat dalam upaya pencarian, diserang oleh Iran.
Meskipun ini tidak berarti bahwa Iran berada di posisi militer yang setara dengan AS, hal ini membantah klaim Presiden AS Donald Trump tentang dominasi penuh atas wilayah udara Teheran.
Pada hari Jumat, langit runtuh bagi Trump. Tetapi bagaimana Iran, dengan pertahanan udaranya yang dianggap ‘lemah’ justru berhasil menargetkan pesawat tempur super canggih seperti itu?
Dihimpun dari berbagai sumber, Sabtu 4 April 2026, jawaban atas pertanyaan itu adalah penguasaan Iran atas peperangan asimetris, menggunakan metode tidak konvensional untuk mengejutkan AS. Meskipun perang kini telah memasuki bulan kedua, AS tampaknya masih belum menyadari kemampuan Iran dalam melakukan serangan balik.
Setelah menembak jatuh jet tempur F-15E Strike Eagle AS pada hari Jumat, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim keberhasilan tersebut berkat sistem pertahanan baru yang canggih.
Beberapa jam kemudian, dua helikopter Black Hawk, yang terlibat dalam upaya pencarian awak F-15, juga terkena tembakan, tetapi mereka berhasil keluar dari wilayah udara Iran. Dan terbaru, pesawat A-10 Warthog juga jatuh di atas Kuwait.
Perkembangan ini merupakan kemunduran besar bagi AS di medan perang. Ini adalah pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun jet tempur Amerika ditembak jatuh oleh tembakan musuh. Terakhir kali pesawat tempur AS ditembak jatuh selama pertempuran aktif adalah di Irak selama invasi tahun 2003.
Sistem Pertahanan Udara Majid
Meskipun Iran belum mengungkapkan apa yang menembak jatuh jet-jet AS, para analis percaya bahwa itu karena sistem pertahanan udara inframerah Majid atau rudal yang ditembakkan dari bahu yang membuat lebih sulit dideteksi.
Dan dua pesawat tempur AS yang ditembak jatuh oleh Iran kemungkinan beroperasi di ketinggian yang lebih rendah, sehingga mudah menjadi sasaran. Terlalu pede tampaknya. Sistem Majid, platform rudal permukaan ke udara, juga diyakini berada di balik serangan pada 19 Maret terhadap F-35 AS, pesawat tempur siluman tercanggih Amerika.
Ya, banyak pengamat militer dunia menyebutkan kunci keberhasilan Iran mempermalukan Trump adalah Sistem Pertahan Udara Majid ini. Sistem Majid, yang mulai digunakan Iran di tahun 2021 ini dirancang memang untuk pertahanan terhadap pesawat terbang rendah.
Yang penting untuk dicatat di sini adalah bahwa sistem ini tidak bergantung pada radar. Sebaliknya, sistem ini menggunakan deteksi inframerah pasif yang dikombinasikan dengan sumbu jarak dekat.
Selain itu, Sistem Majid ini juga terbukti sangat efektif untuk menghancurkan beberapa UAV bernilai tinggi milik AS dan Israel, terutama drone MQ-9 dan Heron, sejak awal perang Iran terjadi pada 28 Februari.

