Jakarta (tutur.co.id) — Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih berada dalam fase rentan di tengah tekanan eksternal, pelemahan rupiah, dan meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global maupun domestik.
Pada perdagangan Selasa (26/5/2026), nilai tukar rupiah dilaporkan melemah hingga menyentuh level Rp17.838 per dolar Amerika Serikat (AS). Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga berasal dari ketidakseimbangan eksternal domestik yang semakin melebar.
Jessica menyoroti defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mencapai US$9,1 miliar pada kuartal I-2026. Sementara itu, defisit transaksi berjalan tercatat melebar menjadi 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB), menjadi yang terdalam sejak kuartal III-2020.
Menurut dia, kondisi tersebut diperburuk oleh melemahnya permintaan ekspor dari sejumlah mitra dagang utama Indonesia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
“Tekanan terhadap rupiah tidak semata berasal dari faktor global, tetapi juga dari external imbalance domestik yang semakin lebar,” ujar Jessica.
Sebagai respons, pemerintah bersama Bank Indonesia tengah menyiapkan implementasi aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026. Aturan tersebut mewajibkan eksportir menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri selama 12 bulan.
Selain itu, sebanyak 50% dari devisa hasil ekspor diwajibkan dikonversi ke rupiah melalui bank domestik guna memperkuat permintaan terhadap mata uang nasional.
“Efektivitas implementasinya akan menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar dalam beberapa bulan ke depan,” kata Jessica.
Mirae Asset juga memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25% hingga akhir 2026 demi menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan daya tarik yield domestik.
Di pasar saham, tekanan juga masih terasa cukup kuat. IHSG tercatat anjlok 8,35% sepanjang periode 18–22 Mei 2026 dan ditutup di level 6.162,04. Dalam periode tersebut, kapitalisasi pasar Bursa tergerus sekitar Rp1.190 triliun menjadi Rp10.635 triliun.
Tekanan utama pasar disebut berasal dari kebijakan rebalancing MSCI yang efektif berlaku mulai 1 Juni 2026. Dalam penyesuaian tersebut, enam saham Indonesia dikeluarkan dari Global Standard Index dengan estimasi potensi capital outflow mencapai US$1,7 miliar. Pasar juga dibayangi risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market apabila persoalan struktural tidak segera dibenahi.
Meski IHSG sempat menguat 0,72% ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin (25/5/2026), penguatan tersebut dinilai masih bersifat teknikal dan belum mencerminkan perbaikan fundamental arus modal asing.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor global masih cenderung defensif terhadap aset domestik selama volatilitas rupiah tinggi dan arus keluar modal asing belum mereda.
“Selama volatilitas rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap defensif terhadap aset domestik. Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh,” ujar Rully.
Ia juga menyoroti mulai bergesernya fokus pasar dari isu inflasi menuju kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi. Hal itu tercermin dari dinamika yield obligasi domestik setelah kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin.
Menurut Rully, pendataran kurva imbal hasil atau flattening yield curve menjadi sinyal meningkatnya risiko perlambatan ekonomi ke depan sekaligus dampak dari kebijakan pengetatan moneter Bank Indonesia yang agresif.
“Pasar masuk ke fase di mana investor tidak hanya memperhatikan arah suku bunga, tetapi juga sustainability pertumbuhan ekonomi domestik di tengah biaya dana yang meningkat dan tekanan eksternal yang masih tinggi,” katanya.

